Oleh : Imam
Rasyidi*
Kalau Gus Dur tentu tidak perlu saya terangkan lagi siapa sosoknya. Tapi kalau Simon Cowell, mungkin hanya sebagian dari peserta milis ini yang tahu. Simon, begitu biasanya orang memanggilnya adalah juri pada American Idol. Dia adalah sosok yang sangat terus terang, to the point, tanpa basa basi dan seringkali menyebalkan.
Komentarnya membuat peserta American Idol menyumpah-nyumpah tersinggung dan marah. Komentarnya antara lain “Anda hanya penyanyi sekelas kafe”, “penampilan Anda luar biasa buruk”, “Anda cuma cocok jadi penyanyi latar”, “Anda seperti penyanyi pasar malam” dan sebagainya.
Pada awal-awal American Idol dimana Simon dan tabiatnya belum dikenal, sering terjadi juri lain marah terhadap Simon ini. Randy Jackson yang berkulit hitam, salah satu juri tersebut, pernah hampir memukul Simon karena marah dengan komentarnya yang dianggap rasis dengan komentarnya yang menyebalkan terhadap peserta yang berkulit hitam.
Dengan berjalannya waktu dan setelah orang-orang mengenal karakter Simon dengan baik, akhirnya orang-orang terbiasa dengan komentar Simon tersebut. Randy pun akhirnya tahu bahwa Simon tidaklah rasis karena Simon akan memberikan komentar yang sama kerasnya apakah yang dikomentarinya berkulit hitam, kuning, putih atau lainnya. Malah ternyata Simon pernah memiliki pacar seorang wanita berkulit hitam. Ketika ditanya kenapa dia suka berkomentar menyebalkan seperti itu, Simon berkata : ”Saya cuma mengatakan apa yang orang lain hanya katakan kepada diri mereka sendiri”.
Kalau melihat Simon memberikan komentar, saya jadi teringat Gus Dur yang suka ceplas ceplos, tanpa basa basi, tidak peduli dengan perasaan orang lain, tidak sabaran dan temperamental. Tentu saja, substansi yang dikomentari berbeda derajatnya. Gus Dur memberikan komentar tentang hal-hal yang lebih mendasar dan bukan cuma komentar untuk show menyanyi.
Kalau kita melihat Gus Dur, menurut saya, itu seperti melihat ikan di akuarium. Sangatlah jelas komentar Gus Dur tentang orang-orang atau kasus yang dihadapinya. Beliau akan bilang seseorang itu jujur, pembohong, penipu atau orang sholeh. Jelas dan tanpa tedeng aling-aling. Beliau berkomentar seperti kita bergumam pada diri sendiri, dengan alasan tidak sopan atau tidak berani kepada orang yang dikomentari.
Keadaan ini diperparah dengan komentarnya yang terkenal, gitu aja kok repot. Ini seperti komentar dari seseorang yang tidak peduli dan menyepelekan persoalan. Padahal, menurut saya, ini adalah komentar dari seseorang yang tahu kedalaman persoalan dan juga tahu bahwa seringkali perbedaan pandangan seseorang memang tidak bisa diargumentasikan karena menyangkut ideologi, rasa, pilihan hidup, cara pandang atau memang yang diajak berargumentasi rada telmi (telat mikir alias lambat berpikir).
Sampai disini kompleksitas seorang Gus Dur belum selesai dengan sedemikian susah diikutinya alur pemikiran beliau. Waktu kasus Tabloid “Monitor”, hampir semua orang mengutuk Arswendo, sementara beliau tenang-tenang saja dan terkesan agak melindungi. Zaman orde baru Gus Dur terlihat berseberangan dengan Pak Harto, eh waktu mahasiswa turun ke jalan pada akhir berkuasanya pak Harto, beliau malah mengatakan sebaiknya para mahasiswa pulang saja ke rumah masing-masing. Bahkan setelah pak Harto jatuh, Gus Dur rajin berlebaran ke Cendana. Ini benar-benar membingungkan untuk sebagian orang.
Yang terakhir Gus Dur adalah seorang yang memiliki minat dalam banyak bidang. Pada saat bersamaan, Gus Dur adalah seorang kiai, politikus, aktivis, budayawan, pemerhati sepak bola dan kolektor lelucon. Dengan gelar yang disandangnya sebagai kiai -meskipun beliau sering menolak julukan ini- maka orang sering memberikan komentar sinis ketika beliau jadi komentator sepak bola di surat kabar dan menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta.
Dengan faktor-faktor tersebut memang tidak mengherankan apabila orang dibuat bingung dengan tindakan dan komentar Gus Dur. Kalau saat ini pemirsa American Idol sudah paham dan mafhum dengan karakter Simon Cowell, maka sejak saya mengenal Gus Dur -dari baca di media- lebih dari 20 tahun yang lalu sampai saat ini, kontroversi tentang Gus Dur tidak juga selesai.
Terus sebagai pemerhati dan penggemar Gus Dur, bagaimana saya memahami beliau? Memang, cukup sulit memahami Gus Dur yang memiliki karakteristik dengan variabel sedemikian banyak. Tapi kalau kita urut dengan baik rasanya seaneh-anehnya Gus Dur, beliau masih memiliki pola-pola tertentu dalam berkomentar dan bertindak.
Karaktek pertama menunjukkan Gus Dur orangnya terus terang dan to the point. Karakter kedua menunjukkan Gus Dur bukan menyepelekan persoalan dengan komentarnya gitu aja kok repot, tetapi karena kemumpuniannya berpikir sehingga beliau tahu hal-hal tertentu susah diperdebatkan.
Karakter ketigalah yang paling sering disalahpahami. Gus Dur sering melawan arus opini masyarakat untuk menunjukkan bahwa dalam hal apapun kita tidak boleh kelewatan, tetap berpikir objektif, tidak personal dan humanis. Ketika publik mem-vonis seseorang, maka seringkali Gus Dur jadi pelindung. Karena memang pandangan masyarakat sudah kelewatan.
Yang sering aneh juga adalah seringkali Gus Dur ribut dengan seseorang tapi di lain waktu beliau bisa duduk bareng lagi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Beliau sebenarnya ingin mengajari kita untuk tidak secara personal membenci seseorang. Yang beliau tidak sukai adalah kelakuannya dan bukan orangnya. Sehingga mungkin kelakuan tertentu beliau tidak suka tapi hal-hal lainnya mungkin beliau suka. Ini terlihat dari cara Gus Dur memandang Soeharto. Di lain waktu beliau juga ingin menunjukkan bahwa yang tidak cocok adalah ideologinya dan bukan orangnya. Selain itu demi untuk bangsa dan negara, ketidaksukaannya terhadap seseorang dikalahkannya. Karakter yang keempat buat saya cuma menunjukkan bakat Gus Dur yang sedemikian banyak. Kan bukan salah Gus Dur kalau beliau dikaruniai banyak kemampuan.
Terlepas dari kelebihan Gus Dur yang luar biasa itu, menurut saya Gus Dur juga adalah manusia biasa yang memiliki kelemahan. Salah satunya adalah ketidakmampuan beliau meng-handle konflik. Ini terbukti dari konflik di PKB yang terjadi berkali-kali dan tidak terkelola dengan baik.
Tentu saja argumentasi yang diungkapkan adalah bahwa beliau ingin membersihkan PKB dari anasir jahat yang justru akan melemahkan PKB itu sendiri. Kalau memang itu yang dimaksudkan, tidak adakah cara lain yang lebih elegan untuk memecat seseorang?. Mungkin Gus Dur sudah mencoba cara yang elegan tersebut. Saya tidak tahu. Tapi kalau kejadiannya sudah berkali-kali berarti saya rasa ada yang salah dengan penanganannya.
Tidakkah lebih baik Gus Dur menunggu muktamar berikutnya untuk memecat seseorang? Dengan demikian pemecatannya tidak berakibat huru hara yang tidak perlu. Saya tahu bahwa mungkin orang salah tidak boleh didiamkan berlama-lama.
Tapi kita mengenal apa yang disebut sebagai survival jangka pendek dan idealisme jangka panjang. Untuk membuat organisasi yang bisa besar diperlukan keseimbangan antara jangka pendek dan jangka panjang. Kalau terlalu jangka pendek maka organisasi tidak bakalan bisa besar dan tidak tercipta kultur yang baik. Kalau terlalu jangka panjang, mungkin keburu KO karena tidak “makan”.
Sebagai pengusaha yang mulai dari nol, masalah seperti ini adalah masalah yang sehari-hari saya hadapi. Seringkali saya mentoleransi karyawan atau subkontraktor yang rada ngawur karena kalau saya pecat akibatnya malah saya tidak bisa menyelesaikan order. Pada saat yang tepat, saya akan mempensiunkan karyawan atau subkontraktor yang ngawur tersebut, tapi itu pun dengan hati-hati dan penuh perhitungan serta dengan cara yang tidak membuat orang jadi ingin men-sabotase apa yang kita lakukan. Dengan strategi ini, pelan-pelan saya membangun bisnis yang berlandaskan pada kejujuran dan profesionalisme. Sedikit demi sedikit kami menaikkan kemampuan perusahaan kami.
Inilah yang mesti dilakukan Gus Dur (sok tahu amat ya saya, sekali2 jadi Simon bolehkan?). Pelan-pelan menaikkan ukuran-ukuran kejujuran dan profesionalisme organisasi dengan melokalisir keributan yang terjadi. Coba ada nggak di Indonesia saat ini partai yang politisnya 100% bener, jujur dan profesional? Jadi kita harus realistis saja karena para politisi toh mencerminkan masyarakat yang memilihnya.
“……. Lain waktu mungkin saya akan menulis tentang bagaimana kita generasi muda (saya hampir generasi tua) bisa mewarisi idealisme Gus Dur tanpa jadi Gus Dur mini dan bagaimana caranya menyatukan kaum penganut ideologi NU yang saat ini berjalan sendiri-sendiri”.
Salam PKB
*Penulis adalah Aktivis Milis PKB, Alumni Universitas Indonesia