Arsip untuk Mei, 2008

Gus Dur dan Oposisi

Posted in Kolom Kader PKB on 29 Mei 2008 by kaderpkb

Oleh : Imam Rasyidi*

Kalau mau objektif rasanya susah disangkal bahwa Gus Dur telah mengimbangi peran Suharto dalam dialektika dan sepak terjang politik di era orde baru. Gus Dur juga telah mengimbangi kalangan konservatif muslim yang sedemikian mudah men-cap orang lain sebagai bid’ah, kafir, musuh Islam dll. Ini bukan berarti bahwa Gus Dur berada pada posisi inferior dari kalangan sekuler, liberal, modern, barat dan kebarat-baratan. Sebaliknya Gus Dur bisa dengan mudah bergaul dan berwacana dengan mereka, tanpa perlu berkompromi dengan akidahnya sebagai muslim sejati.

Ini cukup membingungkan saya. Buat saya tidaklah terlalu sulit memahami profesor lulusan Chicago seperti Cak Nur dan Amien Rais. Atau bahkan Islam liberalnya Ulil Absar Abdala itu. Itu masih bisa dipahami dengan kerangka berpikir ilmu barat dimana saya cukup familiar.

Untuk Gus Dur, sampai hari ini saya masih merasa belajar dari beliau. Bukan hanya belajar dari kejeniusannya berwacana tetapi juga konsistensinya (yang seringkali kelihatannya tidak konsisten) dalam bertindak dan staminanya dalam memperjuangkan apa yang beliau percayai. Gus Dur bisa dianggap gila kekuasaan atau manusia luar biasa soleh. Bukan hanya dari sisi agama per se, tetapi juga dari sisi tindakan kemanusiaan. Saya yakin, insya Allah, jasa Gus Dur akan lebih diapresiasi apabila beliau sudah tidak ada daripada saat beliau masih hidup. Karena seringkali orang jadi lebih objektif manakala orangnya tidak ada atau karena proses waktu telah mengurangi faktor emosional dari proses penilaian manusia.

Sosok Gus Dur memang sesuai dengan pepatah Inggris “you like it or you hate it“. Waktu saya sekolah ke Inggris, saya berkenalan dengan seorang pemuda Inggris. Kemudian saya bilang saya sangat menyukai Mr Bean. Anehnya dia sangat tidak menyukainya. Dia bilang “it’s stupid“. Mungkin karena komedinya yang slapstick. Demikian juga dengan Gus Dur. Susah menemukan orang yang netral terhadap Gus Dur. Seringkali yang ada adalah orang yang sangat tidak menyukainya atau sebaliknya sangat mengidolakannya.

Pada kondisi sekarang dimana beliau sudah tidak bisa melihat lagi, pakai kursi roda dan katanya harus cuci darah beberapa kali dalam seminggu, Gus Dur bisa berarti gila kekuasaan atau benar-benar orang yang sedemikian soleh dan negarawan sehingga beliau bisa lupa akan segala penyakitnya demi umat dan masyarakat Indonesia.

Saya percaya bahwa Gus Dur adalah orang yang sangat soleh dan negarawan. Kalau kita diberi penyakit yang harus cuci darah saja, wah mungkin sudah merasa kiamat dunia dan loyo. Beliau seolah-olah tidak merasakannya. Dan anehnya orang tidak memandang dari sisi ini dan memperlakukan beliau seolah-olah beliau adalah orang yang sehat seperti kita-kita di milis ini. Saya pikr Gus Dur tidak akan tergantikan sebagai pribadi. Susah menyamai Gus Dur dengan segala wacana dan tindakannya. Sama susahnya seperti mencari pengganti Mandel di Afsel, Abraham Lincoln di USA atau Gandhi di India.

Sebagai penggemar Gus Dur yang memonitor beliau sudah sejak lebih dari 20 tahun lalu, saya merasa sukar untuk tidak selalu membenarkan tindakan beliau. Seringkali memang argumentasi yang Gus Dur kemukakan sungguh mematikan, sehingga kita tidak bisa menyanggahnya. Sebenarnya ini bersumber dari keyakinan kita bahwa apa yang Gus Dur lakukan benar-benar untuk kemaslahatan umat. Bukan untuk kenikmatan beliau secara pribadi. Sukar untuk mengatakan bahwa tindakan dan ucapan Gus Dur yang sering melawan arus menguntungkan beliau. Ini berarti beliau memang benar-benar luar biasa ingin selalu beda, ingin selalu cari ribut dan sensasi atau memang punya keberanian luar biasa untuk mengatakan kepada masyarakat bahwa pendapat umum kemungkinan salah.

Kepandaiannya bermain politik sebagai oposisi Suharto di era orde baru telah sedemikian mendarah daging pada beliau. Sehingga sampai hari ini beliau bilang musuh terbesarnya hanyalah Suharto. Saya sependapat dengan beliau bahwa lawan yang setanding dengan beliau adalah pak Harto. Yang lainnya saya rasa tingkatannya cuma gangguan yang menyebalkan buat beliau. Ini mungkin analoginya seperti kita tidur di hutan yang ada harimaunya. Setelah harimaunya mati kita bunuh, tinggal nyamuk-nyamuk menyebalkan yang mengganggu kenikmatan kita tidur. (Kebetulan di hutan tidak ada kelambu atau lotion anti nyamuk).

Sebagai pengagum beliau sukar untuk melepaskan diri untuk melihat suatu keadaan sedikit berbeda dengan judgment Gus Dur. Tapi dengan berjalannya waktu, pelan-pelan saya bisa melepaskan diri dari bayang-bayang kebesaran Gus Dur. Yang kita coba warisi dari beliau adalah prinsip-prinsip dasar sebagai muslim di tengah masyarakat Indonesia dan dunia yang beragam. Tapi dalam hal penilaian situasi dan kondisi masyarakat serta taktik dan strategi bermasyarakat tentu saja kita bisa berbeda dengan penilaian beliau.

Dalam hal ini saya merasa bahwa beliau masih berkelakuan seolah-olah beliau adalah oposisi suatu rezim. Padahal saat ini situasinya berbeda. Pada saat beliau terpilih semestinya “mode”nya beliau rubah sebagai “the legitimate successor” dari era orde baru. Beliau malah bicara lebih ceplas ceplos menyerang orang-orang nggak beres itu. Semestinya beliau mencoba bermain taktis agar pelan-pelan orang-orang ini terkontrol dengan baik. Keberanian Gus Dur di era orde baru menjadi bumerang di kala orde reformasi. Saat ini tidak akan ada yang berani bertindak terhadap Gus Dur apapun yang beliau katakan, tapi bukan berarti orang-orang tidak mengerjainya secara tidak langsung dan di belakang layar.

Dalam hal ini kemampuan Suharto me-manage keadaan di peralihan era orde lama ke orde baru patut diacungi jempol. Dengan taktis pak Harto menguasai keadaan. Sehingga setelah keadaan terkuasai, Suharto bisa berkonsentrasi pada pembangunan ekonomi. Walaupun di era-era terakhir kepemimpinannya, kemampuan penguasaan keadaan ini juga malah jadi bumerang yang menghantam dirinya.

Pada era sekarang ini, saya pikir posisi yang bisa kita pakai sebagai penerus Gus Dur dan ideologi NU adalah berpikir dan bertindak bukan sebagai oposisi tapi sebagai “the de facto majority“. Ini artinya kita tidak mengkritik berlebihan tanpa menghiraukan realitas keadaan.

Aspirasi masyarakat tentu saja tetap kita serap tetapi kita berpikir sebagai mayoritas yang mencoba memikirkan solusi yang realistis atas persoalan yang terjadi. Mungkin strategi yang cocok untuk Gus Dur dan pengikutnya dan pewaris ideologi NU adalah menjadi “consensus builder“. Aspirasi yang diserap dari masyarakat kemudian dicari jalan agar bisa dilaksanakan dengan membangun opini dan membuat aliansi yang optimum dengan para pemangku kepentingan lainnya.

Mungkin ini yang dicoba Cak Imin dengan mencoba dekat dengan SBY. Sayangnya Cak Imin tidak bisa meyakinkan Gus Dur dengan apa yang dilakukannya sehingga mungkin Gus Dur merasa Cak Imin jalan sendiri dan lebih nurut dengan SBY dibanding sebagai pemangku kepercayaan dewan Syuro PKB. Ini tentu saja dengan asumsi Cak Imin memang berpikir seperti itu daripada tergoda kekuasaan yang sedemikian dekat di depan mata.

Memang saat ini hampir tidak ada orang yang bisa menjembatani idealisme tanpa komprominya GD dengan realitas lapangan. Satu-satu orang yang dibesarkan GD berjatuhan. Memang sungguh sukar menjadi jembatan bagi GD dengan realitas politik yang ada. Orang ini mesti paham benar dengan tindakan dan wacana GD dengan segala manuvernya, loyal terhadap beliau sehingga tidak menimbulkan intrik yang tidak perlu dari pengikut GD yang lain, mampu meyakinkan GD akan jalan kompromi yang mesti diambil karena hasilnya lebih optimum bagi masyarakat, dan yang juga sangat susah adalah meyakinkan masyarakat bahwa apa yang GD perbuat memiliki logika yang pada akhirnya demi kemaslahatan masyarakat juga.

Mungkin ini pekerjaan mustahil bagi siapapun. Tapi selama ini tidak terpecahkan, apa yang GD dan PKB lakukan tidaklah akan optimal hasilnya. Dengan track record seperti ini dan waktu yang sudah sedemikian lama memang PR-nya luar biasa susah tapi bukan berarti ini mustahil. Dengan modal awal masa NU yang sedemikian banyak, semestinya GD bisa memainkan aset ini dengan baik. Ini sebenarnya mungkin mengherankan bagi orang-orang yang melihat bagaimana GD mampu memakai kendaraan NU untuk mengimbangi Suharto di era orde baru. Justru saat ini GD banyak berseberangan dengan para petinggi NU.

Kalau saya mencoba membaca apa yang GD lakukan adalah mungkin setelah Suharto tumbang, beliau merasa saatnya membersihkan NU dari orang-orang yang hanya berpikir tentang kenikmatan diri sendiri dan kelompoknya. Dulu nggak mungkin ini bisa dilakukan karena harus berkonsentrasi dengan musuh yang berat.

Menyambung analogi di atas mungkin ini seperti setelah harimau terbunuh, GD konsentrasi membunuhi nyamuk yang tiada habisnya. Sehingga malah lebih susah tidur dari sebelumnya. Mestinya energi yang dipakai untuk berstrategi menghadapi harimau dipakai untuk mencari solusi tidur tidak digigit nyamuk yaitu dengan pergi ke kota mencari kelambu atau obat nyamuk sehingga bisa menikmati tidur dan bahkan mencari teman tidur yang sah sehingga tidurnya benar-benar nyamleng dan terus “berkembang biak” di hutan itu dan akhirnya bisa mendiami hutan dengan sejahtera.

Saya berharap Yenny Wahid bisa berpikir seperti ini, tapi saya lihat peran Yenny saat ini belum optimal. Saya percaya Yenny memiliki kemampuan menonjol dibanding kader PKB dan GD lainnya. Sama seperti GD menjadi penerus klan Wahid bahkan Hasyim yang paling menonjol. Demikian juga Yenny. Waktu yang akan membuktikan apakah Yenny hanya merupakan penyambung lidah GD semata atau memang Yenny bisa bertumbuh menjadi diri sendiri dan seperti bapaknya yang mengukir namanya sendiri. Gus Dur bahkan lebih dikenal sebagai Gus Dur daripada sebagai putranya KH Wahid Hasyim dan cucunya KH Hasyim Ashari.

Selain Yenny, di milis ini saya liat anak-anak muda yang juga bisa berpotensi untuk berperan di kancah wacana dan panggung nasional. Saya harap anda-anda menyadari bahwa saat ini situasinya berubah. Pemain yang dominan bukan lagi Suharto, bahkan saat ini tidak ada pemain dominan di panggung nasional. Yang ada adalah para pemain yang saling berebut naik ke panggung minta gilirannya duluan. Ada baiknya saat ini kita malah jadi sutradara yang mengatur cerita dan pemainnya.

Kita mencoba berpikir dan berbuat layaknya sutradara yang mencoba bermain diantara kepentingan seni, kepentingan pemilik modal, kepentingan norma-norma agama dan sosial serta realitas tempat shooting yang tidak ideal. Dengan cara ini, saya rasa kontribusi kita akan optimal dan pada akhirnya masyarakat akan mengapresiasi apa yang kita lakukan dan memberikan imbalan yang sepadan baik untuk mereka, yang memang berniat berkarir di bidang ini atau hanya mereka yang merasa terpanggil keadaan.

Salam PKB

*Penulis adalah Aktivis Milis PKB, Alumni Universitas Indonesia

Gus Dur, PKB dan Demokrasi

Posted in Kolom Kader PKB on 13 Mei 2008 by kaderpkb

Oleh : Nur Rochman*

Semua pengamat politik, penggiat demokrasi, aktifis sosial dan masyarakat umum di Indonesia semua sepakat bahwa Gus Dur adalah salah satu sosok bapak dan guru bangsa yang sangat demokrat, selalu membela kepentingan orang atau kelompok yang diperlakukan dengan tidak adil dan selalu jujur serta berani terus konsisten terhadap sikap-sikapnya ini. Sejak zaman orde baru sampai dengan sekarang, Gus Dur masih merupakan salah satu dari beberapa gelintir tokoh yang sikapnya sama sekali tidak mengalami deviasi yang diakibatkan oleh euphoria kebebasan masa reformasi dan berbagai kemudahan termasuk iming-iming berbagai fasilitas, uang dan kekuasaan bagi siapapun yang mau berkolaborasi dengan anasir jahat orde baru yang sampai saat ini masih berkuasa di Indonesia.

Tetapi saat ini, dinamika internal partai politik yang dikomandani oleh beliau (Gus Dur) mengalami berbagai proses politik maka hampir semua pengamat, tokoh politik, pengggiat demokrasi menjadi gamang dalam menilai sosok Gus Dur dan perannya di sana. Bisa dikatakan hampir semua tokoh tersebut yang tadinya begitu gigih berada di barisan depan dalam memberikan pendapat dan penilaian mengenai langkah Gus Dur menjadi ragu-ragu dan bahkan cenderung menghakimi Gus Dur sebagai tokoh yang tidak demokrat, tirani otoriter dan pengatur jalannya oganisasi partai sesuai dengan keinginan pribadi Gus Dur sendiri, istilah Jawa-nya “se-enak udele dhewek”.

Saya ingin sampaikan bahwa mereka para pengamat, tokoh-tokoh NU dan berbagai orang yang memberikan penilaian mengenai langkah Gus Dur itu sama sekali tidak benar. Mereka menilai dinamika politik yang ada di PKB dengan ukuran nilai standard konstitusi dan nilai demokrasi yang ada diluar PKB, bukan menggunakan nilai demokrasi dan konstitusi standard PKB itu sendiri. Hampir semua dari pengamat itu memberikan penilaian hanya berdasarkan asumsi-asumsi dan bukan melihat nilai yuridis dan konstitusi internal PKB yang menyebabkan Gus Dur melakukan langkah-langkah untuk menyelamatkan roda organisai PKB secara konstitusi di dalam PKB.

Tanpa membaca AD/ART dan aturan serta yuridis formal yang ada di PKB mereka memberikan penilaian sehingga hasil dari penilaian tersebut menjadi cenderung melenceng dan sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai pijakan obyektif dari perubahan sikap seorang Gus Dur. Hampir semua tulisan tersebut akhirnya menyimpulkan sesuatu hal yang sesat karena berasal dari sesuatu asumsi yang tidak berdasar konstitusi partai dan akhirnya menyesatkan opini publik bagi sebagian masyarakat yang tidak hati-hati dalam memahami sebuah pengamatan seorang pengamat politik.

Kalau boleh saya memberikan gambaran yang lain untuk mempermudah kita memahami langkah Gus Dur dalam dinamika politik di dalam PKB, maka saya akan menganggap bahwa PKB itu seperti sebuah “Negara” dengan konstitusi dan nilai histories serta yuridis tersendiri untuk mengawal proses demokrasi di dalam internal negara-nya dan tentunya berbeda dengan “Negara” PDIP, PPP, Golkar maupun PKS walaupun semuanya mengacu kepada nilai universal dari konstitusi yang ada di Indonesia.

Kita tidak bisa sebut Amerika tidak demokrasi karena pemilihan presidennya tidak secara langsung rakyatnya yang memilih, kita tidak bisa sebut Rusia dan Timor-Timur sebagai negara tidak demokratis karena pemimpin negaranya bisa bertukar posisi antara presiden dan perdana menterinya. Kita juga tidak bisa menyebut Inggris tidak demokrasi karena ratunya menjabat sebagai pemimpin negara sampai mati. Dengan demikian, ukuran demokrasi yang ada dalam negara tidak bisa dinilai oleh ukuran demokrasi negara lain, bahkan badan dunia seperti PBB juga tidak bisa menilai dengan ukuran mereka. Yang bisa menilai bahwa Amerika, Rusia, Inggris, China dan berbagai negara lain bahwa negaranya demokrasi atau tidak adalah rakyatnya sendiri. Jadi selama rakyat masing-masing negara tersebut sepakat dengan konstitusi yang ada dalam negara tersebut dan tidak ada satu pihak manapun yang melakukan kriminalisasi untuk memaksakan sesuatu nilai demokrasi terhadap pihak yang lain, maka bisa dikatakan negara tersebut adalah negara demokrasi sesuai dengan konstitusi dan nilai yang ada di negara tersebut dan tentunya tidak menyimpang dari nilai-nilai universal.

Dari penggambaran tersebut, maka kita bisa kembali menilai dinamika politik yang ada di PKB dengan hati yang lebih jernih dan terbuka, dimana semuanya harus menilai dengan ukuran nilai histories, yuridis dan konstitusi yang ada di PKB, bukan dengan ukuran dan kacamata yang ada pada diri masing-masing pengamat politik atau bahkan dengan nilai dan ukuran partai lain. Mari kita buka AD/ART partai, pelajari sejarah dan nilai yurisdiksi yang ada dalam PKB, kemudian kita cek rangkaian dinamika politik yang ada dalam PKB, lalu kita bisa simpulkan apakah sosok Gus Dur sudah mengalami deviasi dari seorang demokrat menjadi tirani yang otoriter dalam PKB? Mari kita cek bersama.

Dinamika politik yang ada di PKB dimulai dari pelanggaran yang dilakukan oleh berbagai personal dan kelompok baik di cabang, wilayah maupun pusat dan bisa saya sampaikan itu selalu saja ada di partai manapun, dimana kepentingan pribadi dan kelompoknya sering menyesatkan kader partai untuk melakukan penyimpangan dari garis perjuangan partai yang telah disepakati, dari sana maka mulailah dewan syuro DPP PKB dibawah kepemimpinan Gus Dur melakukan investigasi dan penyelidikan serta adanya tahapan-tahapan rapat untuk melakukan konfirmasi dan memberikan hak bagi yang dijadikan tersangka untuk melakukan pembelaan. Dari sini saja jelas bahwa PKB dan Dewan Syuro telah melakukan proses demokrasi dimana segala keputusan diputuskan melalui tingkatan proses yang demokratis mulai dari penyelidikan, persidangan dan pembelaan bukan hanya keputusan sepihak tanpa adanya tahapan serta dasar konstitusi dari sebuah keputusan tersebut.

Dewan Syuro sebagai pemegang amanah tertinggi harus mengawal nilai konstitusi yang ada di PKB dengan tanpa kompromi dan pandang bulu, kalau di partai lain mungkin masih banyak keputusan partai yang mengedepankan kompromi maka tidak dengan PKB, PKB jelas nilai kontitusinya yaitu jujur dan membela yang benar sehingga keputusan tegas dan berani itu harus dilaksanakan apapun risiko politik yang akan terjadi itu harus dilaksanakan. Akhirnya terjadilah pemecatan kader dan pembekuan berbagai pengurus yang tentu saja diawali proses demokrasi dalam internal PKB. Ini hanya ujung saja, bukan akhir dari proses panjang yang dijalani untuk mencapai hasil.

Sampai saat ini sebenarnya ketua umum dewan tanfidz PKB Muhaimin Iskandar masih ikut berperan dan sangat sadar mengenai nilai konstitusi yang ada di PKB ini. Dinamika partai terus berjalan dan tampaknya internal partai akhirnya melihat bahwa sang ketua umum dewan tanfidznya melakukan kesalahan-kesalahan sehingga akhirnya dewan syuro sebagai pengemban amanat tertinggi di dalam partai harus melakukan koreksi terhadap langkah dari dewan tanfidz maka mulailah ada proses penyelidikan, teguran dan surat peringatan kemudian pada akhirnya ada keputusan konstitusi dalam PKB untuk meminta ketua Dewan tanfidz untuk mundur.

Ini harusnya juga dihormati oleh ketua umum dewan tanfidz karena dalam PKB setiap pengurus adalah sama di depan konstitusi PKB dan jabatan adalah amanat bukan warisan yang harus terus dipertahankan. Tetapi tampaknya Cak Imin khilaf sehingga melakukan perlawanan konstitusi dan nilai demokrasi yang ada di PKB dengan cara mengakali konstitusi yang ada di PKB, dimana dia menyelenggarakan MLB tandingan dan merekrut para desertir kader partai. Menurut saya, perlawanan tersebut akan sia-sia saja dan bahkan akan menambah nilai buruk dari para desertir partai ini karena tidak mau menerima konstitusi yang dia ikut merumuskan, apa kata dunia kalau dia yang merumuskan dia juga yang mengkhianati?. Jadi dari sini jelas terlihat bukan siapa demokrat dan siapa otoriter…? Kalau PKB sebuah “negara” betulan, pasti desertir PKB ini akan dihukum berat tetapi beruntunglah PKB hanya partai politik sehingga desertir PKB ini hanya dipersilakan untuk mencari partai lain yang nilai demokrasinya sesuai dengan yang mereka harapkan.

Jadi dari jabaran di atas jelas terlihat dan kalau bahasa Jawa-nya “cetho welo-welo” bahwa Gus Dur masih seorang demokrat sejati dan tidak ada kompromi untuk sebuah kebenaran. Hampir semua yang dipecat dalam PKB adalah kader terbaik yang pernah ada di PKB dan juga didikan keras dan lama oleh Gus Dur tetapi sekali lagi aturan dan konstitusi partai harus ditegakkan tanpa pandang bulu sehingga resiko dan cost apapun akan beliau tempuh.

Dari sini sudah jelas bukan apa yang ada dalam dinamika politik di PKB? Dengan kata lain, kalau mau berfikir jernih tidak repot bukan untuk mengetahui apa yang sebenarnya tejadi dalam PKB? Untuk sebuah kebenaran tidak pernah ada kompromi PKB “selalu” maju tak gentar membela yang benar.

——————————

*Penulis adalah Anggota KOMMIT, Alumni Universitas Diponegoro

Gus Dur, Keturunan Nabi ke-33?

Posted in Info Umum on 7 Mei 2008 by kaderpkb

Salam perjuangan,

Untuk lebih mengenal sosok dari sang guru kita, Ketua Umum Dewan Syuro PKB, al-mukarrom KH Abdurrahman Wahid, mari kita baca kutipan dari sumber blog pecinta Gus Dur berikut ini :

——————————————————–

Gus Dur, keturunan nabi? banyak orang yang tidak percaya bahwa Gus Dur yang terkenal kontroversial ini adalah keturunan nabi, namun dalam kenyataannya, silsilah gus dur menyambung ke rasullulah SAW.

Dapat dibuktikan dari sebuah Al-kitab Talchis karangan Abdulloh Bin Umar Assathiri. Sumber ini diklaim telah diteliti dan direstui Rois Aam Jam’iyah Ahlith Thoriqoh Al Muktabaroh An Nahdliyyah KH. Habib Lutfi Ali Yahya, Pekalongan.

Berikut petikan silsilah Gus Dur sampai ke Nabi Muhammad SAW:
1. Muhammad Salallahu Alaihi Wailaihi Wasalam,

2. Sayyidina Fatimatus Zahro dengan Sayyidina Ali,

3. Sayyidina Husen Bin Ali,

4. Sayyidina Ali Zaenal Abidin,

5. Sayyidina Muhammad Al-Baqir,

6. Sayyidina Ja’far Shodiq,

7. Sayyidina Ali AL-Uroidi,

8. Sayyidina Muhammad Annaqib,

9. Sayyidina Sayyidina Isa Arrumi,

10. Sayyidina Ahmad Al-Muhajir Ilallah.

11. Sayyidina Ubaidillah,

12. Sayyidina Alawi,

13. Sayyidina Muhammad,

14. Sayyidina Alawi Muhammad,

15. Sayyidina Ali Choli’ Qosam,

16. Sayyidina Muhammad Shohibul Mirbath,

17. Sayyidina Alawi,

18. Sayyidina Amir Abdul Malik,

19. Sayyidina Abdulloh Khon,

20. Sayyidina Ahmad Syah Jalal,

21. Sayyidina Jamaludin Khusen,

22. Sayyidina Ibrohim Asmuro,

23. Sayyidina Ishak,

24. Sayyidina Ainul Yaqin (Sunan Giri),

25. Sayyidina Abdurrohman (Jaka Tingkir),

26. Sayyidina Abdul Halim (P. Benawa),

27. Sayyidina Abdurrohman (P. Samhud Bagda),

28. Sayyidina Abdul Halim,

29. Sayyidina Abdul Wahid,

30. Sayyidina Abu Sarwan.

31. Sayyidina KH. As’ari,

32. Sayyidina KH. Hasyim As’ari

33. Sayyidina KH. Abdul Wahid Hasyim

34 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

——————————

Mudah2an Allah memuliakan Rosulullah, Keluarga besarnya, termasuk Gus Dur, dan umatnya di belahan dunia manapun ..

Wassalamu’alaikum

Mengawal Amanat Partai

Posted in Info Umum on 7 Mei 2008 by kaderpkb

Assalamu’alaikum wr wb,

Rekan2 perjuangan PKB di manapun Anda berada …

Perhelatan Pilkada sudah dimulai di jagad Indonesia. Dalam jangka pendek, tanah kebesaran PKB yaitu di Jawa Tengah dan Jawa Timur juga akan diuji melalui Pilkada. Keputusan DPP PKB sudah bulat untuk mencalonkan pasangannya.

Ingat kawan. Konsolidasikan dan perkuat basis PKB untuk pemenangan pasangan PKB.

1. Pilkada Jawa Tengah

Pasangan PKB mendapat no urut 2 : Agus Soeyitno dan Kholiq Arif

Agus Soeyitno adalah mantan Pangdam IV/Diponegoro, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal. Sedangkan Kholiq Arif adalah Bupati Wonosobo sekarang. Pasangan ini sudah mendapat restu Gus Dur dan DPP PKB untuk memimpin Jawa Tengah periode 2008-2013.

Kepada generasi PKB baik pengurus, kader atau simpatisan PKB di Jawa Tengah tetap solidkan barisan di bawah komando Ketua DPW PKB Jawa Tengah, KH Yusuf Chudori untuk memenangkan pasangan PKB tersebut. Basis pantura, dari Brebes, Tegal, Pemalang sampai Blora serta kebupaten/kota madya lainnya harus menjadi modal yang kuat untuk suara PKB.

Perlu diketahu, pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif tidak hanya didukung PKB Jateng. Terdapat 18 partai politik kecil turut dan 74 elemen masyarakat yang tersebar di Jawa Tengah termasuk Angkatan Muda Partai Demokrat, Persatuan Istri Purnawirawan TNI /Polri, Generasi Muda Nahdl atul Ulama, Garda Bangsa Jateng serta Asosiasi Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia Jawa Tengah juga turut mendukung cagub dari Partai Kebangkitan Bangsa [sumber : Kompas]

Sekali lagi ingat, tanggal pencoblosan pilkada Jawa Tengah adalah 22 Juni 2008.

Coblos AGUS-KHOLIQ, NO URUT 2, InsyaAllah berkah

2. Pilkada Jawa Timur

DPP PKB telah memutuskan pasangan cagub dan cawagub untuk pilkada Jawa Tengah adalah DR. H. Achmady dan Brigjen TNI (Purn) Suhartono SH.

DR. H. Achmady adalah bupati Mojokerto, putra sang kyai. Sedangkan Brigjen TNI (Purn) Suhartono SH adalah mantan Kasdam V/ Brawijaya.

Pasangan PKB ini merupakan generasi NU tulen dan mudah2an menjadi pemimpin Jawa Timur periode 2008-2013. DR H. Achmady tercatat pernah aktif di IPNU, PMII, Ansor, dan masih Mustasyar NU Mojokerto sedangkan Brigjen (Purn) Suhartono tercatat pernah aktif di Barisan Ansor Serba Guna (Banser), Sayap pemuda NU.

Kepada segenap pengurus, kader dan simpatisan PKB di Jawa Timur, yang dikomandoi oleh Hasan Aminudin harap merapatkan barisan untuk memenangkan pasangan PKB.

Bersama ulama, kyai dan segenap pendukung PKB dimanapun, pasangan DR. H. Achmady dan Brigjen TNI (Purn) Suhartono SH insyaAllah menang.

SONGSONG KEMENANGAN RAKYAT BERSAMA PKB !!!

Selamat kepada Cak Ali Masykur Musa

Posted in Info Umum on 1 Mei 2008 by kaderpkb

Salam perjuangan,

Tlah diputuskan dalam MLB PKB di Bogor melalui keputusan aklamasi bahwa Ketum Dewan Tanfidz DPP PKB 2008-2010 adalah DR. Ali Masykur Musa (cak Ali), menggantikan A. Muhaimin Iskandar, MSi.

Kami sampaikan selamat kepada Cak Ali sebagai pelanjut perjuangan kepemimpinan di DPP PKB dan tentu selamat juga kepada Gus Dur yang terpilih kembali sebagai Ketua Dewan Syuro DPP PKB.

Semoga hasil MLB di Bogor menjadi momen penting dalam melanjutkan perjuangan dan cita2 PKB dan politik NU secara umum sekaligus untuk menjadi momen konsolidasi untuk pemenangan Pemilu 2009.

Bangkitlah Bangsaku – Damailah Negeriku

Wassalam,