Arsip untuk Juni, 2008

Gus Dur dan Simon Cowell

Posted in Kolom Kader PKB on 13 Juni 2008 by kaderpkb

Oleh : Imam Rasyidi*

Kalau Gus Dur tentu tidak perlu saya terangkan lagi siapa sosoknya. Tapi kalau Simon Cowell, mungkin hanya sebagian dari peserta milis ini yang tahu. Simon, begitu biasanya orang memanggilnya adalah juri pada American Idol. Dia adalah sosok yang sangat terus terang, to the point, tanpa basa basi dan seringkali menyebalkan.

Komentarnya membuat peserta American Idol menyumpah-nyumpah tersinggung dan marah. Komentarnya antara lain “Anda hanya penyanyi sekelas kafe”, “penampilan Anda luar biasa buruk”, “Anda cuma cocok jadi penyanyi latar”, “Anda seperti penyanyi pasar malam” dan sebagainya.

Pada awal-awal American Idol dimana Simon dan tabiatnya belum dikenal, sering terjadi juri lain marah terhadap Simon ini. Randy Jackson yang berkulit hitam, salah satu juri tersebut, pernah hampir memukul Simon karena marah dengan komentarnya yang dianggap rasis dengan komentarnya yang menyebalkan terhadap peserta yang berkulit hitam.

Dengan berjalannya waktu dan setelah orang-orang mengenal karakter Simon dengan baik, akhirnya orang-orang terbiasa dengan komentar Simon tersebut. Randy pun akhirnya tahu bahwa Simon tidaklah rasis karena Simon akan memberikan komentar yang sama kerasnya apakah yang dikomentarinya berkulit hitam, kuning, putih atau lainnya. Malah ternyata Simon pernah memiliki pacar seorang wanita berkulit hitam. Ketika ditanya kenapa dia suka berkomentar menyebalkan seperti itu, Simon berkata : ”Saya cuma mengatakan apa yang orang lain hanya katakan kepada diri mereka sendiri”.

Kalau melihat Simon memberikan komentar, saya jadi teringat Gus Dur yang suka ceplas ceplos, tanpa basa basi, tidak peduli dengan perasaan orang lain, tidak sabaran dan temperamental. Tentu saja, substansi yang dikomentari berbeda derajatnya. Gus Dur memberikan komentar tentang hal-hal yang lebih mendasar dan bukan cuma komentar untuk show menyanyi.

Kalau kita melihat Gus Dur, menurut saya, itu seperti melihat ikan di akuarium. Sangatlah jelas komentar Gus Dur tentang orang-orang atau kasus yang dihadapinya. Beliau akan bilang seseorang itu jujur, pembohong, penipu atau orang sholeh. Jelas dan tanpa tedeng aling-aling. Beliau berkomentar seperti kita bergumam pada diri sendiri, dengan alasan tidak sopan atau tidak berani kepada orang yang dikomentari.

Keadaan ini diperparah dengan komentarnya yang terkenal, gitu aja kok repot. Ini seperti komentar dari seseorang yang tidak peduli dan menyepelekan persoalan. Padahal, menurut saya, ini adalah komentar dari seseorang yang tahu kedalaman persoalan dan juga tahu bahwa seringkali perbedaan pandangan seseorang memang tidak bisa diargumentasikan karena menyangkut ideologi, rasa, pilihan hidup, cara pandang atau memang yang diajak berargumentasi rada telmi (telat mikir alias lambat berpikir).

Sampai disini kompleksitas seorang Gus Dur belum selesai dengan sedemikian susah diikutinya alur pemikiran beliau. Waktu kasus Tabloid “Monitor”, hampir semua orang mengutuk Arswendo, sementara beliau tenang-tenang saja dan terkesan agak melindungi. Zaman orde baru Gus Dur terlihat berseberangan dengan Pak Harto, eh waktu mahasiswa turun ke jalan pada akhir berkuasanya pak Harto, beliau malah mengatakan sebaiknya para mahasiswa pulang saja ke rumah masing-masing. Bahkan setelah pak Harto jatuh, Gus Dur rajin berlebaran ke Cendana. Ini benar-benar membingungkan untuk sebagian orang.

Yang terakhir Gus Dur adalah seorang yang memiliki minat dalam banyak bidang. Pada saat bersamaan, Gus Dur adalah seorang kiai, politikus, aktivis, budayawan, pemerhati sepak bola dan kolektor lelucon. Dengan gelar yang disandangnya sebagai kiai -meskipun beliau sering menolak julukan ini- maka orang sering memberikan komentar sinis ketika beliau jadi komentator sepak bola di surat kabar dan menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta.

Dengan faktor-faktor tersebut memang tidak mengherankan apabila orang dibuat bingung dengan tindakan dan komentar Gus Dur. Kalau saat ini pemirsa American Idol sudah paham dan mafhum dengan karakter Simon Cowell, maka sejak saya mengenal Gus Dur -dari baca di media- lebih dari 20 tahun yang lalu sampai saat ini, kontroversi tentang Gus Dur tidak juga selesai.

Terus sebagai pemerhati dan penggemar Gus Dur, bagaimana saya memahami beliau? Memang, cukup sulit memahami Gus Dur yang memiliki karakteristik dengan variabel sedemikian banyak. Tapi kalau kita urut dengan baik rasanya seaneh-anehnya Gus Dur, beliau masih memiliki pola-pola tertentu dalam berkomentar dan bertindak.

Karaktek pertama menunjukkan Gus Dur orangnya terus terang dan to the point. Karakter kedua menunjukkan Gus Dur bukan menyepelekan persoalan dengan komentarnya gitu aja kok repot, tetapi karena kemumpuniannya berpikir sehingga beliau tahu hal-hal tertentu susah diperdebatkan.

Karakter ketigalah yang paling sering disalahpahami. Gus Dur sering melawan arus opini masyarakat untuk menunjukkan bahwa dalam hal apapun kita tidak boleh kelewatan, tetap berpikir objektif, tidak personal dan humanis. Ketika publik mem-vonis seseorang, maka seringkali Gus Dur jadi pelindung. Karena memang pandangan masyarakat sudah kelewatan.

Yang sering aneh juga adalah seringkali Gus Dur ribut dengan seseorang tapi di lain waktu beliau bisa duduk bareng lagi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Beliau sebenarnya ingin mengajari kita untuk tidak secara personal membenci seseorang. Yang beliau tidak sukai adalah kelakuannya dan bukan orangnya. Sehingga mungkin kelakuan tertentu beliau tidak suka tapi hal-hal lainnya mungkin beliau suka. Ini terlihat dari cara Gus Dur memandang Soeharto. Di lain waktu beliau juga ingin menunjukkan bahwa yang tidak cocok adalah ideologinya dan bukan orangnya. Selain itu demi untuk bangsa dan negara, ketidaksukaannya terhadap seseorang dikalahkannya. Karakter yang keempat buat saya cuma menunjukkan bakat Gus Dur yang sedemikian banyak. Kan bukan salah Gus Dur kalau beliau dikaruniai banyak kemampuan.

Terlepas dari kelebihan Gus Dur yang luar biasa itu, menurut saya Gus Dur juga adalah manusia biasa yang memiliki kelemahan. Salah satunya adalah ketidakmampuan beliau meng-handle konflik. Ini terbukti dari konflik di PKB yang terjadi berkali-kali dan tidak terkelola dengan baik.

Tentu saja argumentasi yang diungkapkan adalah bahwa beliau ingin membersihkan PKB dari anasir jahat yang justru akan melemahkan PKB itu sendiri. Kalau memang itu yang dimaksudkan, tidak adakah cara lain yang lebih elegan untuk memecat seseorang?. Mungkin Gus Dur sudah mencoba cara yang elegan tersebut. Saya tidak tahu. Tapi kalau kejadiannya sudah berkali-kali berarti saya rasa ada yang salah dengan penanganannya.

Tidakkah lebih baik Gus Dur menunggu muktamar berikutnya untuk memecat seseorang? Dengan demikian pemecatannya tidak berakibat huru hara yang tidak perlu. Saya tahu bahwa mungkin orang salah tidak boleh didiamkan berlama-lama.

Tapi kita mengenal apa yang disebut sebagai survival jangka pendek dan idealisme jangka panjang. Untuk membuat organisasi yang bisa besar diperlukan keseimbangan antara jangka pendek dan jangka panjang. Kalau terlalu jangka pendek maka organisasi tidak bakalan bisa besar dan tidak tercipta kultur yang baik. Kalau terlalu jangka panjang, mungkin keburu KO karena tidak “makan”.

Sebagai pengusaha yang mulai dari nol, masalah seperti ini adalah masalah yang sehari-hari saya hadapi. Seringkali saya mentoleransi karyawan atau subkontraktor yang rada ngawur karena kalau saya pecat akibatnya malah saya tidak bisa menyelesaikan order. Pada saat yang tepat, saya akan mempensiunkan karyawan atau subkontraktor yang ngawur tersebut, tapi itu pun dengan hati-hati dan penuh perhitungan serta dengan cara yang tidak membuat orang jadi ingin men-sabotase apa yang kita lakukan. Dengan strategi ini, pelan-pelan saya membangun bisnis yang berlandaskan pada kejujuran dan profesionalisme. Sedikit demi sedikit kami menaikkan kemampuan perusahaan kami.

Inilah yang mesti dilakukan Gus Dur (sok tahu amat ya saya, sekali2 jadi Simon bolehkan?). Pelan-pelan menaikkan ukuran-ukuran kejujuran dan profesionalisme organisasi dengan melokalisir keributan yang terjadi. Coba ada nggak di Indonesia saat ini partai yang politisnya 100% bener, jujur dan profesional? Jadi kita harus realistis saja karena para politisi toh mencerminkan masyarakat yang memilihnya.

“……. Lain waktu mungkin saya akan menulis tentang bagaimana kita generasi muda (saya hampir generasi tua) bisa mewarisi idealisme Gus Dur tanpa jadi Gus Dur mini dan bagaimana caranya menyatukan kaum penganut ideologi NU yang saat ini berjalan sendiri-sendiri”.

Salam PKB

*Penulis adalah Aktivis Milis PKB, Alumni Universitas Indonesia

Iklan

Kembali, FPI Mencoreng Citra Islam dan Demokrasi

Posted in Kolom Kader PKB on 2 Juni 2008 by kaderpkb

oleh : A. Maulana al-Brebesy

Minggu, 1 Juni 2008 sekitar pukul 13.00 WIB, iklim demokrasi dan keberagaman yang sehat di tanah air kembali tercoreng. Pada hari itu, tepatnya di sekitar Monas Jakarta, Front Pembela Islam (FPI) dan kelompok yang menggunakan label Islam lainnya kembali melakukan ulah berbuah anarkisme. Mereka melakukan penyerangan terhadap kelompok masyarakat yang bergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), termasuk di dalamnya ada anggota dari komunitas ICIP dan The Wahid Institute, yang melakukan mimbar orasi tentang dukungannya terhadap kebebasan keyakinan yang dilakukan Ahmadiyyah. Terlepas dari proses perijinan kegiatannya yang bermasalah dari kedua pihak, kasus anarkisme tersebut perlu mendapat sorotan khusus bagi seluruh elemen bangsa yang cinta damai.

Apapun alasan dan siapapun yang menjadi subjek dan objek kekerasan, tentu perbuatan anarkisme tersebut tidak dibenarkan di depan hukum positif suatu negara. FPI sebagai subjek berdalih bahwa mereka yang diserang mendukung eksistensi Ahmadiyyah yang telah di-judge sesat oleh Bakorpakem dan fatwa MUI. Sedangkan AKKBB sebagai objek sudah barang tentu berdalih kebebasan berpendapat dan berserikat yang dijamin oleh konstitusi dan saat itu merupakan bagian dari ekspresi memperingati hari kelahiran Pancasila. Pada titik “sesat tidaknya” mungkin sebagian masyarakat bisa memahami karena ada prinsip2 dalam aqidah Islam yang tidak sesuai atau dilanggar, namun apakah disalahkan juga kalau ada masyarakat lain yang berpendapat berbeda? Apalagi kalau ditinjau lebih dalam lagi, nilai sesat tidaknya itu sejatinya hanya milik Allah Azzawajalla.

Kalau pun masyarakat menyambut positif atas fatwa MUI atau keputusan Bakorpakem yang telah dikeluarkan, maka hal yang terpenting adalah bagaimana kondusifitas sosial dan keagamaan harus tetap terjaga dengan baik, bukan sebaliknya. Di sisi lain, pandangan atau klaim “sesat tidaknya” itu tentu bukan monopoli pihak mereka, karena pasti ada perbedaan pendapat di tengah2 sosial, apalagi status hukum atas fatwa MUI dan keputusan Bakorpakem tidak termasuk dalam urutan peraturan resmi di tanah air, yang mengikat seluruh warga negara.

FPI harus sadar diri, mereka yang menjadi korban bukan lah orang yang harus diserang, apalagi dianiaya. Tidak ada hukum dan argumen kuat yang menjadi pijakan. Dalam pandangan fiqh yang saya ketahui, kewajiban muslim menyerang atau upaya mempertahankan diri adalah tatkala diserang dulu oleh lawan, meski lawan kita kaum kafir sekalipun. Dalam sisi hukum negara pun, kebebasan berpendapat sudah dijamin keberadaannya. Tapi sungguh sangat ironis, FPI yang merasa (‘sok’) Islam justru menyerang mereka yang sebagian muslim juga dengan dalih mendukung yang “sesat”, terlebih sebagian dari mereka yang menjadi korban adalah ibu2 dan anak2.

Dimanakah perasaan dan cara berpikir engkau, anggota FPI? Mereka yang kau serang adalah saudara anda sendiri yang sekedar datang dan berkumpul kemudian ikut dalam orasi, ekspresi dan memberikan pendapat berbeda tentang Ahmadiyyah, bukan mengajak masyarakat untuk masuk ke Ahmadiyyah atau jalan yang di-klaim “sesat” lainnya. Tidak kah kau sadari bahwa mereka yang kau serang adalah juga saudara se-iman Anda juga? Kalau Anda merasa benar, datanglah dengan baik2 dan ajak juga dengan baik2, bukan memakai pentungan atau tongkat meski dengan jubah putih yang seakan2 putih pula sikap mu. Sungguh memilukan !

Dimanakah “daya nalar” engkau, anggota FPI? Agama seperti apa yang engkau bela, padahal Islam sangat menekankan adanya keharmonisan, rukun dan menghormati adanya perbedaan pendapat. Kalau Anda tidak suka atau merasa telah terjadi penodaan terhadap agama [Islam], baik yang dilakukan oleh Ahmadiyyah maupun kelompok2 pendukungnya, maka jangan ragu2 untuk mengajukan mereka ke Kepolisian dengan pasal2 terkait sesuai aturan yang ada, bukan menghakimi sendiri, apalagi menyakiti. Tetapi engkau tak peduli dan kembali menunjukkan keangkuhan dan kecongkakan-mu di depan publik dengan menyerang sesama saudara sendiri.

Atas kejadian tersebut, saya sebagai bagian dari anggota masyarakat sosial NKRI yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menyatakan :

1. Mengutuk keras seluruh perbuatan anarkisme yang dilakukan FPI di ranah NKRI, termasuk penyerangan terhadap warga masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan pada hari Minggu, 1 Juni 2008.

2. Polisi sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap keamanan masyarakat wajib melakukan penyelidikan terhadap kasus anarkisme tersebut. Pihak yang terbukti bersalah harus diberikan hukuman yang semestinya menurut hukum yang berlaku.

3. Kepada kelompok2 yang mendukung atau menolak terhadap keberadaan Ahmadiyyah diharapkan bisa menjaga diri dan tidak melakukan mobilisasi massa yang mengarah pada kerawanan keamanan sosial.

4. Kepada segenap saudara2 ku yang seiman se-Islam dan sebangsa setanah air dimohon tetap menjaga kondisi sosial dengan baik dan harmonis.

Demikian keprihatinan saya terhadap ulah FPI. Dalam benak saya, FPI lebih banyak membawa mudharat daripada maslahat untuk umat. Dengan adanya FPI, muslim terlihat garang, anti toleransi, agama menjadi simbolisme dan bersikap mau menang sendiri. Rasa nasionalis dan kekeluargaan yang baik di masyarakat, khususnya di Ibukota pun semakin berkurang dengan munculnya FPI.

Wahai FPI sadar lah. Coba introspeksi. Apa yang kau kontribusikan untuk tanah air? Pendidikan kah? Kalau ada, pendidikan yang seperti apa? Yayasan kah? Kalau ada, yayasan bergerak dibidang apa? Dakwah kah? Dakwah yang seperti apa? Dakwah radikal kah?. Lalu, cobalah sekali2 engkau dengar keluhan dan kritikan masyarakat Indonesia terhadapmu. Kalau Anda mendengar, pasti Anda tahu kalau sebagian mereka, termasuk sebagian muslim tidak mengharapkan keberadaan mu dan mereka pun tidak ingin agamanya tercoreng nama baiknya karena ulah mu. Coba lah berpikir positif meski sekali karena itu jauh lebih baik daripada bertindak seribu kali tapi anarki.

Demi bangsa Indonesia dan Islam yang cinta damai, katakan dengan tegas : “Peace Yes, Anarchy No”, “Islam Yes, FPI No”.

Jadi, “KATAKAN TIDAK PADA ANARKI”, “KATAKAN TIDAK PADA FPI”

Salam Kebangkitan,

*Penulis adalah Wasekjen KOMMIT, Pemerhati Sosial Politik, tinggal di Jakarta