Membaca Sejarah Nusantara

Posted in Info Umum on 24 Maret 2011 by kaderpkb

Judul buku  : Membaca Sejarah Nusantara
Penulis          : Abdurrahman Wahid
Pengantar    : KH A Mustofa Bisri
Penerbit       : LKIS, Yogyakarta
Cetakan        : Pertama, 2011
Tebal buku : 133 halaman
Peresensi    : Danuji Ahmad

Diskursus sejarah Nusantara memang mengasyikkan. Kehadirannya terbuka untuk kita telaah dan diperbincangkan dengan ragam tafsir dan versi. Ragam tafsir itu tentu tidak sekonyong-konyong hadir begitu saja. Menurut para pakar sejarah, ragam tafsir itu hadir terkait dengan berkembangnya kebudayaan lisan di antara masyarakat pribumi prasejarah. “Kebudayaan lisan yang lebih merakyat daripada bahasa tulis itu,” kata para pakar, “sangat memengaruhi proses penyampaian sejarah dari generasi ke generasi.”

Itu karena sumber penyebarannya dari lisan ke lisan sudah pasti akan terjadi banyak kerancuan versi di dalam penyebarannya. Berawal dari sinilah, sumber sejarah Nusantara mengalami titik perbincangan dan perdebatan yang sangat serius di antara para sejarawan. Salah satu sejarawan yang meramaikan perdebatan dan tafsir itu tidak lain adalah Abdurrahman Wahid atau yang akrab di sapa Gus Dur. Bagi sebagian orang, Gus Dur mungkin tidak terkenal dengan predikat sejarawan, tetapi lebih akrab di mata masyarakat sebagai agamawan, budayawan, atau bahkan cendekiawan yang mengibarkan spirit pluralisme, pribumisasi Islam, bahkan sosok guru bangsa yang getol memperjuangkan hak asasi manusia.

Hadirnya buku yang berjudul Membaca Sejarah Nusantara25 Kolom Sejarah Gus Dur, predikat sejarawan tampaknya tidak terlalu berlebihan jika kita sematkan kepada beliau, selain predikat-predikat lain seperti agamawan, budayawan rohaniawan, cendekiawan, serta lainnya. Gus Dur memang sosok yang multitalenta, unik, cerdik, serta berpola pikir divergen (berpikir keluar dari konvensional) ketika membicarakan sesuatu, entah itu masalah agama, politik, serta sejarah. Inilah ciri khas pemikiran Gus Dur yang oleh sebagian orang dianggap nyeleneh itu.

Oleh sebab itu, buku setebal 133 halam ini cukup menarik untuk kita baca dan telaah, utamanya bagi peminat sejarah. Buku karya Gus Dur ini merupakan acuan yang pas untuk memperkaya perspektif, data, dan pola penulisan sejarah yang unik, hidup, lincah, dan merakyat. Gus Dur selalu menekankan adanya pengolahan baru di dalam penulisan sejarah yang berorientasi untuk memberikan paradigma baru, angin segar di setiap tafsirnya ihwal sejarah Nusantara. Sebab, bagi Gus Dur, sejarah bukanlah sebuah serial yang mati dan stagnan dari sebuah perspektif. Oleh karenanya, gagasannya tentang sejarah selalu dibuatnya baru.

Contoh dari sekian kecerdasan Gus Dur di dalam mengolah sejarah bisa kita simak ketika Gus Dur mengaitkan asal-usul LSM dengan cerita rakyat. Cerita itu diawali dari pertempuran antara Sultan Hadiwijaya atau yang terkenal dengan sebutan Jaka Tingkir dan menantunya Sutawijya. Peperangan yang pada akhirnya dimenangi Sutawijaya itu membuat Hadiwijaya kembali ke Asta Tinggi, Sumenep, Madura, tempat di mana ia dilahirkan untuk mencari kesaktian.

Akhirnya, setelah Hadiwijaya mendapatkan kanuragan, dia pun siap bertempur kembali untuk merebutkan Pajang dari tangan menantunya, Sutawijaya. Akan tetapi, ketika Hadiwijaya istirahat di Pulau Priggobayan atau kalau sekarang terlentak di Kabupaten Lamongan, Hadiwijaya tertidur lalu bermimpi dengan sang guru. Dalam Mimpi itu kemudian sang guru menyarankan agar Hadiwijaya tidak melanjutkan perjalanannya ke Pajang untuk bertempur dengan Sutawijaya. “Jika itu kamu lakukan,” ujar guru Hadiwijaya dalam mimpi, “kamu hanya akan menjadi budak kekuasaan.” Singkat cerita, akhirnya Hadiwijaya mengurungkan niat ke Pajang, lalu mendirikan kekuatan baru di Pringgobayan, Lamongan, di luar kekuasaan Pajang. (hlm 5-7)

Menurut perspektif Gus Dur, cerita Hadiwijaya tidak jadi perang dengan Sutawijaya untuk merebutkan Pajang, dengan mendirikan kerajaan baru di Pringgobayan, Lamongan, itu merupakan benih-benih asal-usul tradisi LSM di negera kita. Artinya, LSM seharusnya keluar dari lingkar kekuasaan dengan mengembangkan jati dirinya sendiri, mendidik masyarakat, dan mengontrol kekusaan yang cenderung arogan. Di sinalah kelebihan tulisan-tulisan sejarah Gus Dur. Pembaca akan disuguhi cerita-cerita rakyat, kemudian diolah dengan sesuatu yang baru seperti dikontekskan dengan kondisi sekarang, diramu dengan bahasa yang jenaka dan lugas.

Gus Dur dengan gaya kepenulisannya juga berani keluar dari mainstream kepenulisan sejarah pada umumnya. Menafsirkan sejarah dengan gayanya sendiri, memilih dan memilah data-data referensi dari berbagai sumber yang tepercaya, termasuk dari cerita rakyat. Sejarah Nusantara mampu dibaca Gus Dur dengan kritis dan selalu menekankan adanya reinterpretasi baru dengan menyelipkan nilai-nilai humanisme. Kritik di dalam karya-karyanya merupakan kelebihan tersendiri dari sosok Gus Dur.

Tulisan-tulisan Gus Dur memang lebih bersifak kualitatif daripada kuantitatif, dalam artian data-data seperti tahun-tahun tidak begitu terlihat di sana-sini dalam tulisan-tulisan Gus Dur. Di sinilah mungkin kelebihan dari kepenulisan sejarah versi Gus Dur. Pembaca tidak dijenuhkan dengan menghafal tahun-tahun, tetapi lebih diajak untuk bersikap kritis, bahkan pembaca sering dibuat bertanya-tanya untuk memberikan tafsir sendiri dari sebuah peristiwa.

Oleh sebab itu, hadirnya buku ini patut kita apresiasi dan kita jadikan karya nyata, spirit, serta kobar untuk selalu membuat inovasi-inavasi baru untuk kemajuan bangsa seutuhnya dan seluruhnya.

*Peresensi adalah pustakawan pada rumah baca Jagad Aksara, Yogyakarta

Sumber : Oase Kompas

Selamatkan Politik NU, Komite Islah PKB dan PKNU Dideklarasikan

Posted in Info Umum on 18 Mei 2010 by kaderpkb


Sejumlah fungsionaris PKB, hasil Muktamar Luar Biasa (MLB) di Ancol dan Parung, serta fungsionaris PKNU mendeklarasikan Komite Islah di Jakarta, Minggu malam (16/5).

Fungsionaris PKB Ancol yang hadir antara lain Lukman Edy, Eman Hermawan, dan Ahmad Niam Salim. Sementara dari PKB Parung hadir Lalu Misbach Hidayat, Hermawi F Taslim, Ikhsan Abdullah, dan Masduki Baidowi. Sedangkan dari PKNU hadir Idham Cholied dan Fathoni.

Salah satu fungsionaris PKB Ancol Niam Salim mengatakan, Komite Islah dibentuk untuk lebih mengkongkritkan wacana islah di antara elemen PKB, termasuk yang telah mendirikan PKNU, yang selama ini sudah mengemuka.

“Dulu belum ada usaha konkrit seperti ini, masih verbal. Sekarang kita konkritkan. Jadi tidak hanya kata-kata saja” kata Niam yang juga salah satu salah ketua DPP PKB hasil MLB Ancol itu.

Sementara menurut Sekjen PKB Lukman Edy, Komite Islah memiliki tugas utama yakni menjalin komunikasi baik formal maupun informal dengan berbagai pihak terkait. Komite Islah, dia menambahkan, telah merumuskan sedikitnya lima opsi yang bisa ditempuh untuk merealisasikan islah tersebut.

“Nanti kita presentasikan opsi-opsi itu ke Pak Muhaimin Iskandar (ketua umum PKB Ancol), Cak Anam (Ketua Umum PKNU Choirul Anam), dan Bu Yenny Wahid (Sekjen PKB Parung),” katanya.

Sedangkan Sekjen PKNU Idham Cholied mengatakan, jika tujuan islah adalah menyelamatkan politik NU, maka sebaiknya pintu masuknya tidak hanya melalui PKB, namun bisa juga lewat PKNU. [dry]

Sumber : Rakyat Merdeka Online

Islah PKB Pasca Gus Dur

Posted in Opini on 19 Februari 2010 by kaderpkb

Oleh : Muhammadun A.S.*
Pasca wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), nafas islah (rekonsilisasi) menghembus kencang di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Disamping kedua kubu yang bertikai selama ini, Cak Imin dan Yeni Wahid, saling beri’tikad baik untuk menjaga keutuhan PKB, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan KH Muchith Muzadi (Mbah Muchith) juga memberikan dorongan kuat agar partai berlambang dunia bertali jagat ini semakin solid untuk menyongsong perjuangan di masa depan yang lebih kokoh. Gus Mus dan Mbah Muchith merupakan dua dari lima deklarator PKB yang masih hidup sekarang. Sedangkan ketiga deklarator lain sudah meninggal, yakni KH Munasir Ali, KH Ilyas Ruhiyat, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Bahkan kedua deklarator tersisa tersebut telah membuat surat untuk PKB pada 4 Januari 2010 yang ditulis Gus Mus dalam bahasa Arab pegon (bahasa Jawa-Indonesia dalam huruf Arab). Isi surat itu adalah mengingatkan kembali warga Nahdliyyin akan nasehat KH Hasyim Asy’ari yang selalu menekankan persatuan dan kekompakan. Persatuan yang selalu digelorakan Mbah Hasyim harus selalu dipegang warga Nahdliyyin dan warga PKB, jangan sampai terjerembab dalam kubangan konflik yang merusak dan menghancurkan. Karena itulah, kedua ulama’ ini mengharapkan adanya islah (rekonsiliasi) dengan mengesampingkan ambisi dan kepentingan kelompok yang sesaat.

Semangat islah yang ditiupkan dua deklarator PKB yang masih hidup ini menjadi monument penting bagi fungsionaris PKB dalam menata kembali partai yang sempat tercabik-cabik dari beragam konflik yang terus menerpa tak kunjung henti. Terlepas dari sifat kontroversial yang melekat dalam dirinya, Gus Dur pastilah bukan menginginkan lahirnya konflik yang justru membuat PKB semakin keropos dan kerdil. Gus Dur sebagai motor utama penggerak PKB berijtihad untuk menciptakan kader-kader muda militan yang kelak ketika beliau wafat seperti sekarang, PKB bisa dilanjutkan oleh generasi ideologisnya dalam memperjuangkan visi-misi PKB yang telah dirumuskan para pendiri.

Terbukti, jasa Gus Dur dalam membina politisi muda berkarakter telah melahirkan beragam bentuk anak muda PKB yang kritis dan progresif dalam menggerakkan roda partai. Di tengah berbagai terpaan konflik saja, anak muda ini tetap mampu membawa PKB dalam gerak politik yang penuh telikungan. Ini bukti bahwa pasca wafatnya Gus Dur, kader-kader PKB justru menemukan harapan besar untuk merealisasikan ide-ide besar Gus

Dur dalam memperjuangkan harkat dan martabat bangsa Indonesia . Kader-kader muda PKB bisa menjadi lokomotif gerakan politik yang secara radikal melakukan perubahan besar bagi Indonesia di masa depan. Barangkali inilah tanggungjawab besar Gus Mus dan Mbah Muchid beserja jajaran DPP PKB untuk memberdayakan potensi besar anak muda didikan Gus Dur menjadi kader PKB masa depan. Gus Mus dan Mbah Muchith harus mempunyai andil besar dalam menggerakkan kembali kesolidan PKB dalam menatap masa depan. Makanya tepat sekali, surat islah yang ditandatangani keduanya merupakan bentuk tanggungjawab besar dalam menjaga keutuhan PKB. Kedua ulama’ khamismatik ini mempunyai kekuatan yang lumayan besar dihadapan kedua kubu yang bertikai, sehingga memungkinkan keduanya bisa melakukan gerak rekonsilisasi lebih cepat, sehingga konflik yang berlarut tidak mengorbankan konstituen PKB.

Pasca wafatnya Gus Dur, posisi politik kubu Cak Imin memang berada lebih unggul dibanding kubu Yeni Wahid. Selain Cak Imin merapat dengan kekuasaan, kader Cak Imin juga telah menguasai berbagai DPW PKB di berbagai wilayah di Indonesia . PKB versi Cak Imin masih bermesraan dengan kekuasaan, sehingga mendapatkan berbagai kemudahan lobi politik dalam menggerakan roda partai di berbagai daerah. Sementara versi Yeni Wahid yang bertolak dengan patron Gus Dur, posisi politiknya jelas melemah. Walaupun demikian, Yeni Wahid mengkantongi basis konstituen yang tidak sedikit, yakni mereka yang sudah “cinta mati” demi Gus Dur.

Para pecinta Gus Dur ini melihat PKB Gus Dur sebagai thoriqoh politik yang sulit tergantikan, tak lain karena memantapkan seluruh gerak jiwanya terhadap Gus Dur. Cinta mereka atas PKB Gus Dur bukan sekedar pilihan politik, tetapi sudah merambah pilihan teologis. Mereka memang tipologi konstutuen kaum tradisional yang menganggap Gus Dur bukanlah sekedar guru politik, tetapi sebagai “wali” politik yang total mereka ikuti seutuhnya. Kelebihan posisi konstituen Yeni Wahid inilah yang tidak dimiliki kubu Cak Imin.

Terpangkal dari plus-minus kedua kubu inilah, islah (rekonsilisasi) bagi PKB menjadi sangat krusial. Kalau kedua kubu masih berpijak pada kepentingan masing-masing, maka masa depan PKB akan semakin suram di masa depan. Partai kaum nahdliyyin bisa semakin terhempas dalam percaturan politik nasional, karena konflik elite PKB selalu melebar menjadi konflik horizontal para konstituen di lapisan paling bawah.

Lebih tragis lagi, konflik PKB juga membuat chaos yang merontokkan ikatan persaudaraan antar warga nahdliyyin. Resiko politik inilah yang harus disadari masing-masing kubu. Tetapi, melihat komitmen Gus Mus dan Mbah Muchith untuk merangkul kedua kubu, islah PKB bukanlah ide kosong. Islah PKB semakin mendekati nyata, sehingga elite PKB harus segera menyiapkan gerak bersama menyongsong gerakan politik yang lebih elegan di masa depan.

Islah PKB pasca Gus Dur ini harus memantapkan kembali “trisula” PKB, agar PKB semakin solid dan bermutu. Trisula tersebut adalah mensinergikan tiga hal penting, yakni kohesifitas kultur, kualitas program, dan kualitas kepemimpinan partai. Kultur PKB yang berbasis nahdliyyin tidaklah menghalangi untuk membuat program partai yang visioner dan mampu mengoptimalkan basis potensi konstituen dan kadernya. Menggerakkan kultur dan program ini jelas harus dikomandoni pemimpin partai yang bisa mengakomodasi elit partai, sehingga sang pemimpin mampu membangun managemen yang professional dalam tubuh PKB, termasuk mampu menjaga keutuhan partai kalau terjadi lagi badai konflik. Pengalaman masa lalu menjadi modal penting PKB untuk tegak berdiri di masa depan.

*Analis Sosial, alumnus Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang

Sumber :
Kolom NU Online, 2 Pebruari 2010

Menghormati Sang Guru Bangsa

Posted in Info Umum on 16 Februari 2010 by kaderpkb

Seperti halnya sunnatulah akan adanya keberagaman, maka bereskpresi pun setiap orang berbeda, termasuk dalam menghormati sang guru bangsa, almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid. Dalam konteks umum, kebebasan itu pula yang memperkuat iklim demokrasi bangsa, sepanjang masih dalam koridor konstitusi.

Ekspresi untuk Sang Guru Bangsa terus datang dari sejak beliau masih berkiprah sampai menghadap ke Ilahi. Beberapa ekspresi kecintaan yang terlihat ketika Guru Bangsa kembali kepangkuan Ilahi, antara lain :

–        Kepergiannya membawa duka cita bagi masyarakat luas yang terdiri dari berbagai lintas agama, suku, juga negara serta dari kalangan masyarakat bawah sampe tokoh2 dunia. [Ref 1][Ref 2][Ref 3][Ref 4][Ref 5][Ref 6][Ref 7][Ref 8][Ref 9][Ref 10][Ref 11]

–        Makamnya terus dikunjungi oleh peziarah yang tidak pernah berhenti di Ponpes Tebu Ireng, Jombang dan membawa berkah tersendiri bagi sebagian masyarakat lain. [Ref 1][Ref 2][Ref 3][Ref 4][Ref 5][Ref 6][Ref 7][Ref 8][Ref 9][Ref 10]

–        Pembuatan buku-buku mengenang perjalanan Guru Bangsa yang seabrek judulnya. [Ref 1][Ref 2][Ref 3][Ref 4][Ref 5][Ref 6]

–        Penggunaan nama Abdurrahman Wahid menjadi jalan utama kota. [[Ref 1][Ref 2][Ref 3][Ref 4][Ref 5]

–        Pemberian penghargaan atau penganugerahan sebagai symbol perjuangan dan tauladan, seperti ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional-usulan-, Bapak Demokrasi Papua, Tokoh Pendidikan, penghargaan oleh Migrant Care Award, Bapak Tionghoa, Mahendradatta Award 2010

–        Pembangunan Perpustakaan Guru Bangsa di Yogya.

–        Rencana/wacana penghormatan lainnya, seperti pemberian nama Bandar Udara Abdurrahman Wahid, Universitas Abdurrahman Wahid, Gus Dur masuk Guines Book of Record-Usulan-.

Bagaimana cara Anda menghormati sang Guru Bangsa? Semuanya terpulang pada diri Anda masing2.

Membaca Prosesi Pemakaman Gus Dur

Posted in Info Umum on 14 Februari 2010 by kaderpkb

Semuanya tumplek plek

Prosesi kenegaraan dan kerakyatan menyatu
Suara dor laras panjang dan takbir saling beradu keras
Beragam manusia ada di sana

Benar-benar warna Indonesia

Presiden tak biasanya hari itu
Hampir tak ada baris batas dengan warga umumnya
Keamanan ber-ring tak tampak
Tak terkecuali panglima tni, kapolri dan pejabat negeri lainnya

Semuanya tumplek plek

Presiden, pejabat, kyai, santri, aktifis, masyarakat awam datang semua
Bukan sedar angka ribuan orang ada di sana
Tetapi nilai duka cita atas kepergian Sang Guru Bangsa

Sekali lagi, tumplek plek

Seorang anggota Banser tak risih berjejer dengan sang “Garuda”, Prabowo, Eks Danjen Kopassus
Seorang santri pun dengan sandal jepitnya berjejer dengan kyai2 besar

Semuanya menyatu
Semuanya berkumpul
Semuanya berduka
atas wafatnya 1 orang manusia
Yang luar biasa

SELAMAT JALAN, GUS DUR.

Allahummaghfirlahu Warhamhu Wa’afihi Wa’fuanhu

——————————-
#Tulisan bebas di atas untuk mengenang kepergian seorang guru besar dan ulama tercinta, Almaghfurlah Gus Dur yang meninggal dikarenakan sakit di RSCM Jakarta pada tanggal 30 Desember 2009 pukul 18.45. Semoga seluruh amal ibadah amlmarhum diterima disisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran serta semoga nilai2 perjuangan Gus Dur terus mengalir untuk kemaslahatan bersama.

Melihat Langkah PKB Cak Imin

Posted in Info Umum on 27 April 2009 by kaderpkb

pkb_demokrat Meski hasil pemilu legislatif (pileg) secara resmi dari KPU baru berkisar 5% dari keseluruhan tetapi langkah PKB secara resmi langsung merapat ke SBY. Tentu ini bisa dipahami sebagai kepentingan pragmatis partai dibawah kepemimpinan Cak Imin yang ingin berporos pada kekuasaan dan mengingat daya tawar partai yang semakin rendah.

Jejak langkah partai ini memang sangat mudah diterka sedari awal konflik dengan Gus Dur. Pengurus yang sekarang memang pro SBY terlebih ada 2 menterinya di jajaran kabinet SBY. Yang disayangkan, nilai2 kepentingan partai yang diharapkan menjadi representasi perjuangan NU dalam politik sudah kabur. Semuanya pragmatis untuk elit partai dan sama sekali tidak ada pembelajaran politik kepada generasinya.

Gus Dur pun sebagai deklarator sudah dikesampingkan, padahal jasa untuk NU dan PKB sangat besar. Hasil pemilu 2009 ini merupakan bagian dari efek pengebirian jasa Gus Dur. Meski mempunyai akar massa yang real, tetapi jika sistem partai dan nilai2 kepentingan partai tidak dibenahi, maka tidak mungkin hasil pemilu berikutnya adalah setengah atau seperempat dari hasil pemilu kali ini. Dengan kata lain, jika tidak mau berubah, maka bersiaplah untuk hengkang dari senayan.

Sesungguhnya tidak ada partai besar tanpa tokoh besar. PKB telah mencabut stigma itu dan bersiaplah menjadi partai kecil.

Salam,
A. Maulana Ahmad al-Barbasy

(tulisan ini diadop dari tulisan pribadi penulis di facebook tanggal 15 April 2009) Link : KLIK INI


Mengibarkan bendera GATARA

Posted in Info Umum on 10 Maret 2009 by kaderpkb

gatara-logo1Setelah GATARA resmi dideklarasikan oleh KH Abdurrahman Wahid di Jakarta, beberapa daerah/kota/kabupaten di Indonesia menyusul pendeklarasian GATARA.

Beberapa daerah/kota/kabupaten yang telah mendeklarasikan GATARA adalah :
1. Provinsi Jawa Barat
Lihat berita :
#1 : Link 1
#2 : Link 2

2. Malang Raya
Lihat berita :
#1 : Link 1
#2 : Link 2

3. Kabupaten Tegal
Lihat berita :
#1 : Link 1
#2 : Link 1
#3 : Link 3

4. Mojokerto
Lihat berita :
#1 : Link 1
#2 : Link 2

Bagaimana dengan kota Anda? Bagi yg ingin berkomunikasi lebih jauh perihal kepengurusan dan lain-lain, silakan menghubungi admin Grup GATARA :

Wiwit Rizka Fatkhurrahman
Email : Riza_fatur26@yahoo.com
Mobile : +6285640216833
Alamat : jl. kalibata timur, RT 10/RW 10, jakarta selatan
Website: http://wiwitfatur.wordpress.com

Salam SUKSES !

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.