Arsip untuk Februari, 2010

Islah PKB Pasca Gus Dur

Posted in Opini on 19 Februari 2010 by kaderpkb

Oleh : Muhammadun A.S.*
Pasca wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), nafas islah (rekonsilisasi) menghembus kencang di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Disamping kedua kubu yang bertikai selama ini, Cak Imin dan Yeni Wahid, saling beri’tikad baik untuk menjaga keutuhan PKB, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan KH Muchith Muzadi (Mbah Muchith) juga memberikan dorongan kuat agar partai berlambang dunia bertali jagat ini semakin solid untuk menyongsong perjuangan di masa depan yang lebih kokoh. Gus Mus dan Mbah Muchith merupakan dua dari lima deklarator PKB yang masih hidup sekarang. Sedangkan ketiga deklarator lain sudah meninggal, yakni KH Munasir Ali, KH Ilyas Ruhiyat, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Bahkan kedua deklarator tersisa tersebut telah membuat surat untuk PKB pada 4 Januari 2010 yang ditulis Gus Mus dalam bahasa Arab pegon (bahasa Jawa-Indonesia dalam huruf Arab). Isi surat itu adalah mengingatkan kembali warga Nahdliyyin akan nasehat KH Hasyim Asy’ari yang selalu menekankan persatuan dan kekompakan. Persatuan yang selalu digelorakan Mbah Hasyim harus selalu dipegang warga Nahdliyyin dan warga PKB, jangan sampai terjerembab dalam kubangan konflik yang merusak dan menghancurkan. Karena itulah, kedua ulama’ ini mengharapkan adanya islah (rekonsiliasi) dengan mengesampingkan ambisi dan kepentingan kelompok yang sesaat.

Semangat islah yang ditiupkan dua deklarator PKB yang masih hidup ini menjadi monument penting bagi fungsionaris PKB dalam menata kembali partai yang sempat tercabik-cabik dari beragam konflik yang terus menerpa tak kunjung henti. Terlepas dari sifat kontroversial yang melekat dalam dirinya, Gus Dur pastilah bukan menginginkan lahirnya konflik yang justru membuat PKB semakin keropos dan kerdil. Gus Dur sebagai motor utama penggerak PKB berijtihad untuk menciptakan kader-kader muda militan yang kelak ketika beliau wafat seperti sekarang, PKB bisa dilanjutkan oleh generasi ideologisnya dalam memperjuangkan visi-misi PKB yang telah dirumuskan para pendiri.

Terbukti, jasa Gus Dur dalam membina politisi muda berkarakter telah melahirkan beragam bentuk anak muda PKB yang kritis dan progresif dalam menggerakkan roda partai. Di tengah berbagai terpaan konflik saja, anak muda ini tetap mampu membawa PKB dalam gerak politik yang penuh telikungan. Ini bukti bahwa pasca wafatnya Gus Dur, kader-kader PKB justru menemukan harapan besar untuk merealisasikan ide-ide besar Gus

Dur dalam memperjuangkan harkat dan martabat bangsa Indonesia . Kader-kader muda PKB bisa menjadi lokomotif gerakan politik yang secara radikal melakukan perubahan besar bagi Indonesia di masa depan. Barangkali inilah tanggungjawab besar Gus Mus dan Mbah Muchid beserja jajaran DPP PKB untuk memberdayakan potensi besar anak muda didikan Gus Dur menjadi kader PKB masa depan. Gus Mus dan Mbah Muchith harus mempunyai andil besar dalam menggerakkan kembali kesolidan PKB dalam menatap masa depan. Makanya tepat sekali, surat islah yang ditandatangani keduanya merupakan bentuk tanggungjawab besar dalam menjaga keutuhan PKB. Kedua ulama’ khamismatik ini mempunyai kekuatan yang lumayan besar dihadapan kedua kubu yang bertikai, sehingga memungkinkan keduanya bisa melakukan gerak rekonsilisasi lebih cepat, sehingga konflik yang berlarut tidak mengorbankan konstituen PKB.

Pasca wafatnya Gus Dur, posisi politik kubu Cak Imin memang berada lebih unggul dibanding kubu Yeni Wahid. Selain Cak Imin merapat dengan kekuasaan, kader Cak Imin juga telah menguasai berbagai DPW PKB di berbagai wilayah di Indonesia . PKB versi Cak Imin masih bermesraan dengan kekuasaan, sehingga mendapatkan berbagai kemudahan lobi politik dalam menggerakan roda partai di berbagai daerah. Sementara versi Yeni Wahid yang bertolak dengan patron Gus Dur, posisi politiknya jelas melemah. Walaupun demikian, Yeni Wahid mengkantongi basis konstituen yang tidak sedikit, yakni mereka yang sudah “cinta mati” demi Gus Dur.

Para pecinta Gus Dur ini melihat PKB Gus Dur sebagai thoriqoh politik yang sulit tergantikan, tak lain karena memantapkan seluruh gerak jiwanya terhadap Gus Dur. Cinta mereka atas PKB Gus Dur bukan sekedar pilihan politik, tetapi sudah merambah pilihan teologis. Mereka memang tipologi konstutuen kaum tradisional yang menganggap Gus Dur bukanlah sekedar guru politik, tetapi sebagai “wali” politik yang total mereka ikuti seutuhnya. Kelebihan posisi konstituen Yeni Wahid inilah yang tidak dimiliki kubu Cak Imin.

Terpangkal dari plus-minus kedua kubu inilah, islah (rekonsilisasi) bagi PKB menjadi sangat krusial. Kalau kedua kubu masih berpijak pada kepentingan masing-masing, maka masa depan PKB akan semakin suram di masa depan. Partai kaum nahdliyyin bisa semakin terhempas dalam percaturan politik nasional, karena konflik elite PKB selalu melebar menjadi konflik horizontal para konstituen di lapisan paling bawah.

Lebih tragis lagi, konflik PKB juga membuat chaos yang merontokkan ikatan persaudaraan antar warga nahdliyyin. Resiko politik inilah yang harus disadari masing-masing kubu. Tetapi, melihat komitmen Gus Mus dan Mbah Muchith untuk merangkul kedua kubu, islah PKB bukanlah ide kosong. Islah PKB semakin mendekati nyata, sehingga elite PKB harus segera menyiapkan gerak bersama menyongsong gerakan politik yang lebih elegan di masa depan.

Islah PKB pasca Gus Dur ini harus memantapkan kembali “trisula” PKB, agar PKB semakin solid dan bermutu. Trisula tersebut adalah mensinergikan tiga hal penting, yakni kohesifitas kultur, kualitas program, dan kualitas kepemimpinan partai. Kultur PKB yang berbasis nahdliyyin tidaklah menghalangi untuk membuat program partai yang visioner dan mampu mengoptimalkan basis potensi konstituen dan kadernya. Menggerakkan kultur dan program ini jelas harus dikomandoni pemimpin partai yang bisa mengakomodasi elit partai, sehingga sang pemimpin mampu membangun managemen yang professional dalam tubuh PKB, termasuk mampu menjaga keutuhan partai kalau terjadi lagi badai konflik. Pengalaman masa lalu menjadi modal penting PKB untuk tegak berdiri di masa depan.

*Analis Sosial, alumnus Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang

Sumber :
Kolom NU Online, 2 Pebruari 2010

Menghormati Sang Guru Bangsa

Posted in Info Umum on 16 Februari 2010 by kaderpkb

Seperti halnya sunnatulah akan adanya keberagaman, maka bereskpresi pun setiap orang berbeda, termasuk dalam menghormati sang guru bangsa, almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid. Dalam konteks umum, kebebasan itu pula yang memperkuat iklim demokrasi bangsa, sepanjang masih dalam koridor konstitusi.

Ekspresi untuk Sang Guru Bangsa terus datang dari sejak beliau masih berkiprah sampai menghadap ke Ilahi. Beberapa ekspresi kecintaan yang terlihat ketika Guru Bangsa kembali kepangkuan Ilahi, antara lain :

–        Kepergiannya membawa duka cita bagi masyarakat luas yang terdiri dari berbagai lintas agama, suku, juga negara serta dari kalangan masyarakat bawah sampe tokoh2 dunia. [Ref 1][Ref 2][Ref 3][Ref 4][Ref 5][Ref 6][Ref 7][Ref 8][Ref 9][Ref 10][Ref 11]

–        Makamnya terus dikunjungi oleh peziarah yang tidak pernah berhenti di Ponpes Tebu Ireng, Jombang dan membawa berkah tersendiri bagi sebagian masyarakat lain. [Ref 1][Ref 2][Ref 3][Ref 4][Ref 5][Ref 6][Ref 7][Ref 8][Ref 9][Ref 10]

–        Pembuatan buku-buku mengenang perjalanan Guru Bangsa yang seabrek judulnya. [Ref 1][Ref 2][Ref 3][Ref 4][Ref 5][Ref 6]

–        Penggunaan nama Abdurrahman Wahid menjadi jalan utama kota. [[Ref 1][Ref 2][Ref 3][Ref 4][Ref 5]

–        Pemberian penghargaan atau penganugerahan sebagai symbol perjuangan dan tauladan, seperti ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional-usulan-, Bapak Demokrasi Papua, Tokoh Pendidikan, penghargaan oleh Migrant Care Award, Bapak Tionghoa, Mahendradatta Award 2010

–        Pembangunan Perpustakaan Guru Bangsa di Yogya.

–        Rencana/wacana penghormatan lainnya, seperti pemberian nama Bandar Udara Abdurrahman Wahid, Universitas Abdurrahman Wahid, Gus Dur masuk Guines Book of Record-Usulan-.

Bagaimana cara Anda menghormati sang Guru Bangsa? Semuanya terpulang pada diri Anda masing2.

Membaca Prosesi Pemakaman Gus Dur

Posted in Info Umum on 14 Februari 2010 by kaderpkb

Semuanya tumplek plek

Prosesi kenegaraan dan kerakyatan menyatu
Suara dor laras panjang dan takbir saling beradu keras
Beragam manusia ada di sana

Benar-benar warna Indonesia

Presiden tak biasanya hari itu
Hampir tak ada baris batas dengan warga umumnya
Keamanan ber-ring tak tampak
Tak terkecuali panglima tni, kapolri dan pejabat negeri lainnya

Semuanya tumplek plek

Presiden, pejabat, kyai, santri, aktifis, masyarakat awam datang semua
Bukan sedar angka ribuan orang ada di sana
Tetapi nilai duka cita atas kepergian Sang Guru Bangsa

Sekali lagi, tumplek plek

Seorang anggota Banser tak risih berjejer dengan sang “Garuda”, Prabowo, Eks Danjen Kopassus
Seorang santri pun dengan sandal jepitnya berjejer dengan kyai2 besar

Semuanya menyatu
Semuanya berkumpul
Semuanya berduka
atas wafatnya 1 orang manusia
Yang luar biasa

SELAMAT JALAN, GUS DUR.

Allahummaghfirlahu Warhamhu Wa’afihi Wa’fuanhu

——————————-
#Tulisan bebas di atas untuk mengenang kepergian seorang guru besar dan ulama tercinta, Almaghfurlah Gus Dur yang meninggal dikarenakan sakit di RSCM Jakarta pada tanggal 30 Desember 2009 pukul 18.45. Semoga seluruh amal ibadah amlmarhum diterima disisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran serta semoga nilai2 perjuangan Gus Dur terus mengalir untuk kemaslahatan bersama.