Archive for the Kolom Kader PKB Category

Gus Dur dan Simon Cowell

Posted in Kolom Kader PKB on 13 Juni 2008 by kaderpkb

Oleh : Imam Rasyidi*

Kalau Gus Dur tentu tidak perlu saya terangkan lagi siapa sosoknya. Tapi kalau Simon Cowell, mungkin hanya sebagian dari peserta milis ini yang tahu. Simon, begitu biasanya orang memanggilnya adalah juri pada American Idol. Dia adalah sosok yang sangat terus terang, to the point, tanpa basa basi dan seringkali menyebalkan.

Komentarnya membuat peserta American Idol menyumpah-nyumpah tersinggung dan marah. Komentarnya antara lain “Anda hanya penyanyi sekelas kafe”, “penampilan Anda luar biasa buruk”, “Anda cuma cocok jadi penyanyi latar”, “Anda seperti penyanyi pasar malam” dan sebagainya.

Pada awal-awal American Idol dimana Simon dan tabiatnya belum dikenal, sering terjadi juri lain marah terhadap Simon ini. Randy Jackson yang berkulit hitam, salah satu juri tersebut, pernah hampir memukul Simon karena marah dengan komentarnya yang dianggap rasis dengan komentarnya yang menyebalkan terhadap peserta yang berkulit hitam.

Dengan berjalannya waktu dan setelah orang-orang mengenal karakter Simon dengan baik, akhirnya orang-orang terbiasa dengan komentar Simon tersebut. Randy pun akhirnya tahu bahwa Simon tidaklah rasis karena Simon akan memberikan komentar yang sama kerasnya apakah yang dikomentarinya berkulit hitam, kuning, putih atau lainnya. Malah ternyata Simon pernah memiliki pacar seorang wanita berkulit hitam. Ketika ditanya kenapa dia suka berkomentar menyebalkan seperti itu, Simon berkata : ”Saya cuma mengatakan apa yang orang lain hanya katakan kepada diri mereka sendiri”.

Kalau melihat Simon memberikan komentar, saya jadi teringat Gus Dur yang suka ceplas ceplos, tanpa basa basi, tidak peduli dengan perasaan orang lain, tidak sabaran dan temperamental. Tentu saja, substansi yang dikomentari berbeda derajatnya. Gus Dur memberikan komentar tentang hal-hal yang lebih mendasar dan bukan cuma komentar untuk show menyanyi.

Kalau kita melihat Gus Dur, menurut saya, itu seperti melihat ikan di akuarium. Sangatlah jelas komentar Gus Dur tentang orang-orang atau kasus yang dihadapinya. Beliau akan bilang seseorang itu jujur, pembohong, penipu atau orang sholeh. Jelas dan tanpa tedeng aling-aling. Beliau berkomentar seperti kita bergumam pada diri sendiri, dengan alasan tidak sopan atau tidak berani kepada orang yang dikomentari.

Keadaan ini diperparah dengan komentarnya yang terkenal, gitu aja kok repot. Ini seperti komentar dari seseorang yang tidak peduli dan menyepelekan persoalan. Padahal, menurut saya, ini adalah komentar dari seseorang yang tahu kedalaman persoalan dan juga tahu bahwa seringkali perbedaan pandangan seseorang memang tidak bisa diargumentasikan karena menyangkut ideologi, rasa, pilihan hidup, cara pandang atau memang yang diajak berargumentasi rada telmi (telat mikir alias lambat berpikir).

Sampai disini kompleksitas seorang Gus Dur belum selesai dengan sedemikian susah diikutinya alur pemikiran beliau. Waktu kasus Tabloid “Monitor”, hampir semua orang mengutuk Arswendo, sementara beliau tenang-tenang saja dan terkesan agak melindungi. Zaman orde baru Gus Dur terlihat berseberangan dengan Pak Harto, eh waktu mahasiswa turun ke jalan pada akhir berkuasanya pak Harto, beliau malah mengatakan sebaiknya para mahasiswa pulang saja ke rumah masing-masing. Bahkan setelah pak Harto jatuh, Gus Dur rajin berlebaran ke Cendana. Ini benar-benar membingungkan untuk sebagian orang.

Yang terakhir Gus Dur adalah seorang yang memiliki minat dalam banyak bidang. Pada saat bersamaan, Gus Dur adalah seorang kiai, politikus, aktivis, budayawan, pemerhati sepak bola dan kolektor lelucon. Dengan gelar yang disandangnya sebagai kiai -meskipun beliau sering menolak julukan ini- maka orang sering memberikan komentar sinis ketika beliau jadi komentator sepak bola di surat kabar dan menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta.

Dengan faktor-faktor tersebut memang tidak mengherankan apabila orang dibuat bingung dengan tindakan dan komentar Gus Dur. Kalau saat ini pemirsa American Idol sudah paham dan mafhum dengan karakter Simon Cowell, maka sejak saya mengenal Gus Dur -dari baca di media- lebih dari 20 tahun yang lalu sampai saat ini, kontroversi tentang Gus Dur tidak juga selesai.

Terus sebagai pemerhati dan penggemar Gus Dur, bagaimana saya memahami beliau? Memang, cukup sulit memahami Gus Dur yang memiliki karakteristik dengan variabel sedemikian banyak. Tapi kalau kita urut dengan baik rasanya seaneh-anehnya Gus Dur, beliau masih memiliki pola-pola tertentu dalam berkomentar dan bertindak.

Karaktek pertama menunjukkan Gus Dur orangnya terus terang dan to the point. Karakter kedua menunjukkan Gus Dur bukan menyepelekan persoalan dengan komentarnya gitu aja kok repot, tetapi karena kemumpuniannya berpikir sehingga beliau tahu hal-hal tertentu susah diperdebatkan.

Karakter ketigalah yang paling sering disalahpahami. Gus Dur sering melawan arus opini masyarakat untuk menunjukkan bahwa dalam hal apapun kita tidak boleh kelewatan, tetap berpikir objektif, tidak personal dan humanis. Ketika publik mem-vonis seseorang, maka seringkali Gus Dur jadi pelindung. Karena memang pandangan masyarakat sudah kelewatan.

Yang sering aneh juga adalah seringkali Gus Dur ribut dengan seseorang tapi di lain waktu beliau bisa duduk bareng lagi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Beliau sebenarnya ingin mengajari kita untuk tidak secara personal membenci seseorang. Yang beliau tidak sukai adalah kelakuannya dan bukan orangnya. Sehingga mungkin kelakuan tertentu beliau tidak suka tapi hal-hal lainnya mungkin beliau suka. Ini terlihat dari cara Gus Dur memandang Soeharto. Di lain waktu beliau juga ingin menunjukkan bahwa yang tidak cocok adalah ideologinya dan bukan orangnya. Selain itu demi untuk bangsa dan negara, ketidaksukaannya terhadap seseorang dikalahkannya. Karakter yang keempat buat saya cuma menunjukkan bakat Gus Dur yang sedemikian banyak. Kan bukan salah Gus Dur kalau beliau dikaruniai banyak kemampuan.

Terlepas dari kelebihan Gus Dur yang luar biasa itu, menurut saya Gus Dur juga adalah manusia biasa yang memiliki kelemahan. Salah satunya adalah ketidakmampuan beliau meng-handle konflik. Ini terbukti dari konflik di PKB yang terjadi berkali-kali dan tidak terkelola dengan baik.

Tentu saja argumentasi yang diungkapkan adalah bahwa beliau ingin membersihkan PKB dari anasir jahat yang justru akan melemahkan PKB itu sendiri. Kalau memang itu yang dimaksudkan, tidak adakah cara lain yang lebih elegan untuk memecat seseorang?. Mungkin Gus Dur sudah mencoba cara yang elegan tersebut. Saya tidak tahu. Tapi kalau kejadiannya sudah berkali-kali berarti saya rasa ada yang salah dengan penanganannya.

Tidakkah lebih baik Gus Dur menunggu muktamar berikutnya untuk memecat seseorang? Dengan demikian pemecatannya tidak berakibat huru hara yang tidak perlu. Saya tahu bahwa mungkin orang salah tidak boleh didiamkan berlama-lama.

Tapi kita mengenal apa yang disebut sebagai survival jangka pendek dan idealisme jangka panjang. Untuk membuat organisasi yang bisa besar diperlukan keseimbangan antara jangka pendek dan jangka panjang. Kalau terlalu jangka pendek maka organisasi tidak bakalan bisa besar dan tidak tercipta kultur yang baik. Kalau terlalu jangka panjang, mungkin keburu KO karena tidak “makan”.

Sebagai pengusaha yang mulai dari nol, masalah seperti ini adalah masalah yang sehari-hari saya hadapi. Seringkali saya mentoleransi karyawan atau subkontraktor yang rada ngawur karena kalau saya pecat akibatnya malah saya tidak bisa menyelesaikan order. Pada saat yang tepat, saya akan mempensiunkan karyawan atau subkontraktor yang ngawur tersebut, tapi itu pun dengan hati-hati dan penuh perhitungan serta dengan cara yang tidak membuat orang jadi ingin men-sabotase apa yang kita lakukan. Dengan strategi ini, pelan-pelan saya membangun bisnis yang berlandaskan pada kejujuran dan profesionalisme. Sedikit demi sedikit kami menaikkan kemampuan perusahaan kami.

Inilah yang mesti dilakukan Gus Dur (sok tahu amat ya saya, sekali2 jadi Simon bolehkan?). Pelan-pelan menaikkan ukuran-ukuran kejujuran dan profesionalisme organisasi dengan melokalisir keributan yang terjadi. Coba ada nggak di Indonesia saat ini partai yang politisnya 100% bener, jujur dan profesional? Jadi kita harus realistis saja karena para politisi toh mencerminkan masyarakat yang memilihnya.

“……. Lain waktu mungkin saya akan menulis tentang bagaimana kita generasi muda (saya hampir generasi tua) bisa mewarisi idealisme Gus Dur tanpa jadi Gus Dur mini dan bagaimana caranya menyatukan kaum penganut ideologi NU yang saat ini berjalan sendiri-sendiri”.

Salam PKB

*Penulis adalah Aktivis Milis PKB, Alumni Universitas Indonesia

Kembali, FPI Mencoreng Citra Islam dan Demokrasi

Posted in Kolom Kader PKB on 2 Juni 2008 by kaderpkb

oleh : A. Maulana al-Brebesy

Minggu, 1 Juni 2008 sekitar pukul 13.00 WIB, iklim demokrasi dan keberagaman yang sehat di tanah air kembali tercoreng. Pada hari itu, tepatnya di sekitar Monas Jakarta, Front Pembela Islam (FPI) dan kelompok yang menggunakan label Islam lainnya kembali melakukan ulah berbuah anarkisme. Mereka melakukan penyerangan terhadap kelompok masyarakat yang bergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), termasuk di dalamnya ada anggota dari komunitas ICIP dan The Wahid Institute, yang melakukan mimbar orasi tentang dukungannya terhadap kebebasan keyakinan yang dilakukan Ahmadiyyah. Terlepas dari proses perijinan kegiatannya yang bermasalah dari kedua pihak, kasus anarkisme tersebut perlu mendapat sorotan khusus bagi seluruh elemen bangsa yang cinta damai.

Apapun alasan dan siapapun yang menjadi subjek dan objek kekerasan, tentu perbuatan anarkisme tersebut tidak dibenarkan di depan hukum positif suatu negara. FPI sebagai subjek berdalih bahwa mereka yang diserang mendukung eksistensi Ahmadiyyah yang telah di-judge sesat oleh Bakorpakem dan fatwa MUI. Sedangkan AKKBB sebagai objek sudah barang tentu berdalih kebebasan berpendapat dan berserikat yang dijamin oleh konstitusi dan saat itu merupakan bagian dari ekspresi memperingati hari kelahiran Pancasila. Pada titik “sesat tidaknya” mungkin sebagian masyarakat bisa memahami karena ada prinsip2 dalam aqidah Islam yang tidak sesuai atau dilanggar, namun apakah disalahkan juga kalau ada masyarakat lain yang berpendapat berbeda? Apalagi kalau ditinjau lebih dalam lagi, nilai sesat tidaknya itu sejatinya hanya milik Allah Azzawajalla.

Kalau pun masyarakat menyambut positif atas fatwa MUI atau keputusan Bakorpakem yang telah dikeluarkan, maka hal yang terpenting adalah bagaimana kondusifitas sosial dan keagamaan harus tetap terjaga dengan baik, bukan sebaliknya. Di sisi lain, pandangan atau klaim “sesat tidaknya” itu tentu bukan monopoli pihak mereka, karena pasti ada perbedaan pendapat di tengah2 sosial, apalagi status hukum atas fatwa MUI dan keputusan Bakorpakem tidak termasuk dalam urutan peraturan resmi di tanah air, yang mengikat seluruh warga negara.

FPI harus sadar diri, mereka yang menjadi korban bukan lah orang yang harus diserang, apalagi dianiaya. Tidak ada hukum dan argumen kuat yang menjadi pijakan. Dalam pandangan fiqh yang saya ketahui, kewajiban muslim menyerang atau upaya mempertahankan diri adalah tatkala diserang dulu oleh lawan, meski lawan kita kaum kafir sekalipun. Dalam sisi hukum negara pun, kebebasan berpendapat sudah dijamin keberadaannya. Tapi sungguh sangat ironis, FPI yang merasa (‘sok’) Islam justru menyerang mereka yang sebagian muslim juga dengan dalih mendukung yang “sesat”, terlebih sebagian dari mereka yang menjadi korban adalah ibu2 dan anak2.

Dimanakah perasaan dan cara berpikir engkau, anggota FPI? Mereka yang kau serang adalah saudara anda sendiri yang sekedar datang dan berkumpul kemudian ikut dalam orasi, ekspresi dan memberikan pendapat berbeda tentang Ahmadiyyah, bukan mengajak masyarakat untuk masuk ke Ahmadiyyah atau jalan yang di-klaim “sesat” lainnya. Tidak kah kau sadari bahwa mereka yang kau serang adalah juga saudara se-iman Anda juga? Kalau Anda merasa benar, datanglah dengan baik2 dan ajak juga dengan baik2, bukan memakai pentungan atau tongkat meski dengan jubah putih yang seakan2 putih pula sikap mu. Sungguh memilukan !

Dimanakah “daya nalar” engkau, anggota FPI? Agama seperti apa yang engkau bela, padahal Islam sangat menekankan adanya keharmonisan, rukun dan menghormati adanya perbedaan pendapat. Kalau Anda tidak suka atau merasa telah terjadi penodaan terhadap agama [Islam], baik yang dilakukan oleh Ahmadiyyah maupun kelompok2 pendukungnya, maka jangan ragu2 untuk mengajukan mereka ke Kepolisian dengan pasal2 terkait sesuai aturan yang ada, bukan menghakimi sendiri, apalagi menyakiti. Tetapi engkau tak peduli dan kembali menunjukkan keangkuhan dan kecongkakan-mu di depan publik dengan menyerang sesama saudara sendiri.

Atas kejadian tersebut, saya sebagai bagian dari anggota masyarakat sosial NKRI yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menyatakan :

1. Mengutuk keras seluruh perbuatan anarkisme yang dilakukan FPI di ranah NKRI, termasuk penyerangan terhadap warga masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan pada hari Minggu, 1 Juni 2008.

2. Polisi sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap keamanan masyarakat wajib melakukan penyelidikan terhadap kasus anarkisme tersebut. Pihak yang terbukti bersalah harus diberikan hukuman yang semestinya menurut hukum yang berlaku.

3. Kepada kelompok2 yang mendukung atau menolak terhadap keberadaan Ahmadiyyah diharapkan bisa menjaga diri dan tidak melakukan mobilisasi massa yang mengarah pada kerawanan keamanan sosial.

4. Kepada segenap saudara2 ku yang seiman se-Islam dan sebangsa setanah air dimohon tetap menjaga kondisi sosial dengan baik dan harmonis.

Demikian keprihatinan saya terhadap ulah FPI. Dalam benak saya, FPI lebih banyak membawa mudharat daripada maslahat untuk umat. Dengan adanya FPI, muslim terlihat garang, anti toleransi, agama menjadi simbolisme dan bersikap mau menang sendiri. Rasa nasionalis dan kekeluargaan yang baik di masyarakat, khususnya di Ibukota pun semakin berkurang dengan munculnya FPI.

Wahai FPI sadar lah. Coba introspeksi. Apa yang kau kontribusikan untuk tanah air? Pendidikan kah? Kalau ada, pendidikan yang seperti apa? Yayasan kah? Kalau ada, yayasan bergerak dibidang apa? Dakwah kah? Dakwah yang seperti apa? Dakwah radikal kah?. Lalu, cobalah sekali2 engkau dengar keluhan dan kritikan masyarakat Indonesia terhadapmu. Kalau Anda mendengar, pasti Anda tahu kalau sebagian mereka, termasuk sebagian muslim tidak mengharapkan keberadaan mu dan mereka pun tidak ingin agamanya tercoreng nama baiknya karena ulah mu. Coba lah berpikir positif meski sekali karena itu jauh lebih baik daripada bertindak seribu kali tapi anarki.

Demi bangsa Indonesia dan Islam yang cinta damai, katakan dengan tegas : “Peace Yes, Anarchy No”, “Islam Yes, FPI No”.

Jadi, “KATAKAN TIDAK PADA ANARKI”, “KATAKAN TIDAK PADA FPI”

Salam Kebangkitan,

*Penulis adalah Wasekjen KOMMIT, Pemerhati Sosial Politik, tinggal di Jakarta

Gus Dur dan Oposisi

Posted in Kolom Kader PKB on 29 Mei 2008 by kaderpkb

Oleh : Imam Rasyidi*

Kalau mau objektif rasanya susah disangkal bahwa Gus Dur telah mengimbangi peran Suharto dalam dialektika dan sepak terjang politik di era orde baru. Gus Dur juga telah mengimbangi kalangan konservatif muslim yang sedemikian mudah men-cap orang lain sebagai bid’ah, kafir, musuh Islam dll. Ini bukan berarti bahwa Gus Dur berada pada posisi inferior dari kalangan sekuler, liberal, modern, barat dan kebarat-baratan. Sebaliknya Gus Dur bisa dengan mudah bergaul dan berwacana dengan mereka, tanpa perlu berkompromi dengan akidahnya sebagai muslim sejati.

Ini cukup membingungkan saya. Buat saya tidaklah terlalu sulit memahami profesor lulusan Chicago seperti Cak Nur dan Amien Rais. Atau bahkan Islam liberalnya Ulil Absar Abdala itu. Itu masih bisa dipahami dengan kerangka berpikir ilmu barat dimana saya cukup familiar.

Untuk Gus Dur, sampai hari ini saya masih merasa belajar dari beliau. Bukan hanya belajar dari kejeniusannya berwacana tetapi juga konsistensinya (yang seringkali kelihatannya tidak konsisten) dalam bertindak dan staminanya dalam memperjuangkan apa yang beliau percayai. Gus Dur bisa dianggap gila kekuasaan atau manusia luar biasa soleh. Bukan hanya dari sisi agama per se, tetapi juga dari sisi tindakan kemanusiaan. Saya yakin, insya Allah, jasa Gus Dur akan lebih diapresiasi apabila beliau sudah tidak ada daripada saat beliau masih hidup. Karena seringkali orang jadi lebih objektif manakala orangnya tidak ada atau karena proses waktu telah mengurangi faktor emosional dari proses penilaian manusia.

Sosok Gus Dur memang sesuai dengan pepatah Inggris “you like it or you hate it“. Waktu saya sekolah ke Inggris, saya berkenalan dengan seorang pemuda Inggris. Kemudian saya bilang saya sangat menyukai Mr Bean. Anehnya dia sangat tidak menyukainya. Dia bilang “it’s stupid“. Mungkin karena komedinya yang slapstick. Demikian juga dengan Gus Dur. Susah menemukan orang yang netral terhadap Gus Dur. Seringkali yang ada adalah orang yang sangat tidak menyukainya atau sebaliknya sangat mengidolakannya.

Pada kondisi sekarang dimana beliau sudah tidak bisa melihat lagi, pakai kursi roda dan katanya harus cuci darah beberapa kali dalam seminggu, Gus Dur bisa berarti gila kekuasaan atau benar-benar orang yang sedemikian soleh dan negarawan sehingga beliau bisa lupa akan segala penyakitnya demi umat dan masyarakat Indonesia.

Saya percaya bahwa Gus Dur adalah orang yang sangat soleh dan negarawan. Kalau kita diberi penyakit yang harus cuci darah saja, wah mungkin sudah merasa kiamat dunia dan loyo. Beliau seolah-olah tidak merasakannya. Dan anehnya orang tidak memandang dari sisi ini dan memperlakukan beliau seolah-olah beliau adalah orang yang sehat seperti kita-kita di milis ini. Saya pikr Gus Dur tidak akan tergantikan sebagai pribadi. Susah menyamai Gus Dur dengan segala wacana dan tindakannya. Sama susahnya seperti mencari pengganti Mandel di Afsel, Abraham Lincoln di USA atau Gandhi di India.

Sebagai penggemar Gus Dur yang memonitor beliau sudah sejak lebih dari 20 tahun lalu, saya merasa sukar untuk tidak selalu membenarkan tindakan beliau. Seringkali memang argumentasi yang Gus Dur kemukakan sungguh mematikan, sehingga kita tidak bisa menyanggahnya. Sebenarnya ini bersumber dari keyakinan kita bahwa apa yang Gus Dur lakukan benar-benar untuk kemaslahatan umat. Bukan untuk kenikmatan beliau secara pribadi. Sukar untuk mengatakan bahwa tindakan dan ucapan Gus Dur yang sering melawan arus menguntungkan beliau. Ini berarti beliau memang benar-benar luar biasa ingin selalu beda, ingin selalu cari ribut dan sensasi atau memang punya keberanian luar biasa untuk mengatakan kepada masyarakat bahwa pendapat umum kemungkinan salah.

Kepandaiannya bermain politik sebagai oposisi Suharto di era orde baru telah sedemikian mendarah daging pada beliau. Sehingga sampai hari ini beliau bilang musuh terbesarnya hanyalah Suharto. Saya sependapat dengan beliau bahwa lawan yang setanding dengan beliau adalah pak Harto. Yang lainnya saya rasa tingkatannya cuma gangguan yang menyebalkan buat beliau. Ini mungkin analoginya seperti kita tidur di hutan yang ada harimaunya. Setelah harimaunya mati kita bunuh, tinggal nyamuk-nyamuk menyebalkan yang mengganggu kenikmatan kita tidur. (Kebetulan di hutan tidak ada kelambu atau lotion anti nyamuk).

Sebagai pengagum beliau sukar untuk melepaskan diri untuk melihat suatu keadaan sedikit berbeda dengan judgment Gus Dur. Tapi dengan berjalannya waktu, pelan-pelan saya bisa melepaskan diri dari bayang-bayang kebesaran Gus Dur. Yang kita coba warisi dari beliau adalah prinsip-prinsip dasar sebagai muslim di tengah masyarakat Indonesia dan dunia yang beragam. Tapi dalam hal penilaian situasi dan kondisi masyarakat serta taktik dan strategi bermasyarakat tentu saja kita bisa berbeda dengan penilaian beliau.

Dalam hal ini saya merasa bahwa beliau masih berkelakuan seolah-olah beliau adalah oposisi suatu rezim. Padahal saat ini situasinya berbeda. Pada saat beliau terpilih semestinya “mode”nya beliau rubah sebagai “the legitimate successor” dari era orde baru. Beliau malah bicara lebih ceplas ceplos menyerang orang-orang nggak beres itu. Semestinya beliau mencoba bermain taktis agar pelan-pelan orang-orang ini terkontrol dengan baik. Keberanian Gus Dur di era orde baru menjadi bumerang di kala orde reformasi. Saat ini tidak akan ada yang berani bertindak terhadap Gus Dur apapun yang beliau katakan, tapi bukan berarti orang-orang tidak mengerjainya secara tidak langsung dan di belakang layar.

Dalam hal ini kemampuan Suharto me-manage keadaan di peralihan era orde lama ke orde baru patut diacungi jempol. Dengan taktis pak Harto menguasai keadaan. Sehingga setelah keadaan terkuasai, Suharto bisa berkonsentrasi pada pembangunan ekonomi. Walaupun di era-era terakhir kepemimpinannya, kemampuan penguasaan keadaan ini juga malah jadi bumerang yang menghantam dirinya.

Pada era sekarang ini, saya pikir posisi yang bisa kita pakai sebagai penerus Gus Dur dan ideologi NU adalah berpikir dan bertindak bukan sebagai oposisi tapi sebagai “the de facto majority“. Ini artinya kita tidak mengkritik berlebihan tanpa menghiraukan realitas keadaan.

Aspirasi masyarakat tentu saja tetap kita serap tetapi kita berpikir sebagai mayoritas yang mencoba memikirkan solusi yang realistis atas persoalan yang terjadi. Mungkin strategi yang cocok untuk Gus Dur dan pengikutnya dan pewaris ideologi NU adalah menjadi “consensus builder“. Aspirasi yang diserap dari masyarakat kemudian dicari jalan agar bisa dilaksanakan dengan membangun opini dan membuat aliansi yang optimum dengan para pemangku kepentingan lainnya.

Mungkin ini yang dicoba Cak Imin dengan mencoba dekat dengan SBY. Sayangnya Cak Imin tidak bisa meyakinkan Gus Dur dengan apa yang dilakukannya sehingga mungkin Gus Dur merasa Cak Imin jalan sendiri dan lebih nurut dengan SBY dibanding sebagai pemangku kepercayaan dewan Syuro PKB. Ini tentu saja dengan asumsi Cak Imin memang berpikir seperti itu daripada tergoda kekuasaan yang sedemikian dekat di depan mata.

Memang saat ini hampir tidak ada orang yang bisa menjembatani idealisme tanpa komprominya GD dengan realitas lapangan. Satu-satu orang yang dibesarkan GD berjatuhan. Memang sungguh sukar menjadi jembatan bagi GD dengan realitas politik yang ada. Orang ini mesti paham benar dengan tindakan dan wacana GD dengan segala manuvernya, loyal terhadap beliau sehingga tidak menimbulkan intrik yang tidak perlu dari pengikut GD yang lain, mampu meyakinkan GD akan jalan kompromi yang mesti diambil karena hasilnya lebih optimum bagi masyarakat, dan yang juga sangat susah adalah meyakinkan masyarakat bahwa apa yang GD perbuat memiliki logika yang pada akhirnya demi kemaslahatan masyarakat juga.

Mungkin ini pekerjaan mustahil bagi siapapun. Tapi selama ini tidak terpecahkan, apa yang GD dan PKB lakukan tidaklah akan optimal hasilnya. Dengan track record seperti ini dan waktu yang sudah sedemikian lama memang PR-nya luar biasa susah tapi bukan berarti ini mustahil. Dengan modal awal masa NU yang sedemikian banyak, semestinya GD bisa memainkan aset ini dengan baik. Ini sebenarnya mungkin mengherankan bagi orang-orang yang melihat bagaimana GD mampu memakai kendaraan NU untuk mengimbangi Suharto di era orde baru. Justru saat ini GD banyak berseberangan dengan para petinggi NU.

Kalau saya mencoba membaca apa yang GD lakukan adalah mungkin setelah Suharto tumbang, beliau merasa saatnya membersihkan NU dari orang-orang yang hanya berpikir tentang kenikmatan diri sendiri dan kelompoknya. Dulu nggak mungkin ini bisa dilakukan karena harus berkonsentrasi dengan musuh yang berat.

Menyambung analogi di atas mungkin ini seperti setelah harimau terbunuh, GD konsentrasi membunuhi nyamuk yang tiada habisnya. Sehingga malah lebih susah tidur dari sebelumnya. Mestinya energi yang dipakai untuk berstrategi menghadapi harimau dipakai untuk mencari solusi tidur tidak digigit nyamuk yaitu dengan pergi ke kota mencari kelambu atau obat nyamuk sehingga bisa menikmati tidur dan bahkan mencari teman tidur yang sah sehingga tidurnya benar-benar nyamleng dan terus “berkembang biak” di hutan itu dan akhirnya bisa mendiami hutan dengan sejahtera.

Saya berharap Yenny Wahid bisa berpikir seperti ini, tapi saya lihat peran Yenny saat ini belum optimal. Saya percaya Yenny memiliki kemampuan menonjol dibanding kader PKB dan GD lainnya. Sama seperti GD menjadi penerus klan Wahid bahkan Hasyim yang paling menonjol. Demikian juga Yenny. Waktu yang akan membuktikan apakah Yenny hanya merupakan penyambung lidah GD semata atau memang Yenny bisa bertumbuh menjadi diri sendiri dan seperti bapaknya yang mengukir namanya sendiri. Gus Dur bahkan lebih dikenal sebagai Gus Dur daripada sebagai putranya KH Wahid Hasyim dan cucunya KH Hasyim Ashari.

Selain Yenny, di milis ini saya liat anak-anak muda yang juga bisa berpotensi untuk berperan di kancah wacana dan panggung nasional. Saya harap anda-anda menyadari bahwa saat ini situasinya berubah. Pemain yang dominan bukan lagi Suharto, bahkan saat ini tidak ada pemain dominan di panggung nasional. Yang ada adalah para pemain yang saling berebut naik ke panggung minta gilirannya duluan. Ada baiknya saat ini kita malah jadi sutradara yang mengatur cerita dan pemainnya.

Kita mencoba berpikir dan berbuat layaknya sutradara yang mencoba bermain diantara kepentingan seni, kepentingan pemilik modal, kepentingan norma-norma agama dan sosial serta realitas tempat shooting yang tidak ideal. Dengan cara ini, saya rasa kontribusi kita akan optimal dan pada akhirnya masyarakat akan mengapresiasi apa yang kita lakukan dan memberikan imbalan yang sepadan baik untuk mereka, yang memang berniat berkarir di bidang ini atau hanya mereka yang merasa terpanggil keadaan.

Salam PKB

*Penulis adalah Aktivis Milis PKB, Alumni Universitas Indonesia

Gus Dur, PKB dan Demokrasi

Posted in Kolom Kader PKB on 13 Mei 2008 by kaderpkb

Oleh : Nur Rochman*

Semua pengamat politik, penggiat demokrasi, aktifis sosial dan masyarakat umum di Indonesia semua sepakat bahwa Gus Dur adalah salah satu sosok bapak dan guru bangsa yang sangat demokrat, selalu membela kepentingan orang atau kelompok yang diperlakukan dengan tidak adil dan selalu jujur serta berani terus konsisten terhadap sikap-sikapnya ini. Sejak zaman orde baru sampai dengan sekarang, Gus Dur masih merupakan salah satu dari beberapa gelintir tokoh yang sikapnya sama sekali tidak mengalami deviasi yang diakibatkan oleh euphoria kebebasan masa reformasi dan berbagai kemudahan termasuk iming-iming berbagai fasilitas, uang dan kekuasaan bagi siapapun yang mau berkolaborasi dengan anasir jahat orde baru yang sampai saat ini masih berkuasa di Indonesia.

Tetapi saat ini, dinamika internal partai politik yang dikomandani oleh beliau (Gus Dur) mengalami berbagai proses politik maka hampir semua pengamat, tokoh politik, pengggiat demokrasi menjadi gamang dalam menilai sosok Gus Dur dan perannya di sana. Bisa dikatakan hampir semua tokoh tersebut yang tadinya begitu gigih berada di barisan depan dalam memberikan pendapat dan penilaian mengenai langkah Gus Dur menjadi ragu-ragu dan bahkan cenderung menghakimi Gus Dur sebagai tokoh yang tidak demokrat, tirani otoriter dan pengatur jalannya oganisasi partai sesuai dengan keinginan pribadi Gus Dur sendiri, istilah Jawa-nya “se-enak udele dhewek”.

Saya ingin sampaikan bahwa mereka para pengamat, tokoh-tokoh NU dan berbagai orang yang memberikan penilaian mengenai langkah Gus Dur itu sama sekali tidak benar. Mereka menilai dinamika politik yang ada di PKB dengan ukuran nilai standard konstitusi dan nilai demokrasi yang ada diluar PKB, bukan menggunakan nilai demokrasi dan konstitusi standard PKB itu sendiri. Hampir semua dari pengamat itu memberikan penilaian hanya berdasarkan asumsi-asumsi dan bukan melihat nilai yuridis dan konstitusi internal PKB yang menyebabkan Gus Dur melakukan langkah-langkah untuk menyelamatkan roda organisai PKB secara konstitusi di dalam PKB.

Tanpa membaca AD/ART dan aturan serta yuridis formal yang ada di PKB mereka memberikan penilaian sehingga hasil dari penilaian tersebut menjadi cenderung melenceng dan sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai pijakan obyektif dari perubahan sikap seorang Gus Dur. Hampir semua tulisan tersebut akhirnya menyimpulkan sesuatu hal yang sesat karena berasal dari sesuatu asumsi yang tidak berdasar konstitusi partai dan akhirnya menyesatkan opini publik bagi sebagian masyarakat yang tidak hati-hati dalam memahami sebuah pengamatan seorang pengamat politik.

Kalau boleh saya memberikan gambaran yang lain untuk mempermudah kita memahami langkah Gus Dur dalam dinamika politik di dalam PKB, maka saya akan menganggap bahwa PKB itu seperti sebuah “Negara” dengan konstitusi dan nilai histories serta yuridis tersendiri untuk mengawal proses demokrasi di dalam internal negara-nya dan tentunya berbeda dengan “Negara” PDIP, PPP, Golkar maupun PKS walaupun semuanya mengacu kepada nilai universal dari konstitusi yang ada di Indonesia.

Kita tidak bisa sebut Amerika tidak demokrasi karena pemilihan presidennya tidak secara langsung rakyatnya yang memilih, kita tidak bisa sebut Rusia dan Timor-Timur sebagai negara tidak demokratis karena pemimpin negaranya bisa bertukar posisi antara presiden dan perdana menterinya. Kita juga tidak bisa menyebut Inggris tidak demokrasi karena ratunya menjabat sebagai pemimpin negara sampai mati. Dengan demikian, ukuran demokrasi yang ada dalam negara tidak bisa dinilai oleh ukuran demokrasi negara lain, bahkan badan dunia seperti PBB juga tidak bisa menilai dengan ukuran mereka. Yang bisa menilai bahwa Amerika, Rusia, Inggris, China dan berbagai negara lain bahwa negaranya demokrasi atau tidak adalah rakyatnya sendiri. Jadi selama rakyat masing-masing negara tersebut sepakat dengan konstitusi yang ada dalam negara tersebut dan tidak ada satu pihak manapun yang melakukan kriminalisasi untuk memaksakan sesuatu nilai demokrasi terhadap pihak yang lain, maka bisa dikatakan negara tersebut adalah negara demokrasi sesuai dengan konstitusi dan nilai yang ada di negara tersebut dan tentunya tidak menyimpang dari nilai-nilai universal.

Dari penggambaran tersebut, maka kita bisa kembali menilai dinamika politik yang ada di PKB dengan hati yang lebih jernih dan terbuka, dimana semuanya harus menilai dengan ukuran nilai histories, yuridis dan konstitusi yang ada di PKB, bukan dengan ukuran dan kacamata yang ada pada diri masing-masing pengamat politik atau bahkan dengan nilai dan ukuran partai lain. Mari kita buka AD/ART partai, pelajari sejarah dan nilai yurisdiksi yang ada dalam PKB, kemudian kita cek rangkaian dinamika politik yang ada dalam PKB, lalu kita bisa simpulkan apakah sosok Gus Dur sudah mengalami deviasi dari seorang demokrat menjadi tirani yang otoriter dalam PKB? Mari kita cek bersama.

Dinamika politik yang ada di PKB dimulai dari pelanggaran yang dilakukan oleh berbagai personal dan kelompok baik di cabang, wilayah maupun pusat dan bisa saya sampaikan itu selalu saja ada di partai manapun, dimana kepentingan pribadi dan kelompoknya sering menyesatkan kader partai untuk melakukan penyimpangan dari garis perjuangan partai yang telah disepakati, dari sana maka mulailah dewan syuro DPP PKB dibawah kepemimpinan Gus Dur melakukan investigasi dan penyelidikan serta adanya tahapan-tahapan rapat untuk melakukan konfirmasi dan memberikan hak bagi yang dijadikan tersangka untuk melakukan pembelaan. Dari sini saja jelas bahwa PKB dan Dewan Syuro telah melakukan proses demokrasi dimana segala keputusan diputuskan melalui tingkatan proses yang demokratis mulai dari penyelidikan, persidangan dan pembelaan bukan hanya keputusan sepihak tanpa adanya tahapan serta dasar konstitusi dari sebuah keputusan tersebut.

Dewan Syuro sebagai pemegang amanah tertinggi harus mengawal nilai konstitusi yang ada di PKB dengan tanpa kompromi dan pandang bulu, kalau di partai lain mungkin masih banyak keputusan partai yang mengedepankan kompromi maka tidak dengan PKB, PKB jelas nilai kontitusinya yaitu jujur dan membela yang benar sehingga keputusan tegas dan berani itu harus dilaksanakan apapun risiko politik yang akan terjadi itu harus dilaksanakan. Akhirnya terjadilah pemecatan kader dan pembekuan berbagai pengurus yang tentu saja diawali proses demokrasi dalam internal PKB. Ini hanya ujung saja, bukan akhir dari proses panjang yang dijalani untuk mencapai hasil.

Sampai saat ini sebenarnya ketua umum dewan tanfidz PKB Muhaimin Iskandar masih ikut berperan dan sangat sadar mengenai nilai konstitusi yang ada di PKB ini. Dinamika partai terus berjalan dan tampaknya internal partai akhirnya melihat bahwa sang ketua umum dewan tanfidznya melakukan kesalahan-kesalahan sehingga akhirnya dewan syuro sebagai pengemban amanat tertinggi di dalam partai harus melakukan koreksi terhadap langkah dari dewan tanfidz maka mulailah ada proses penyelidikan, teguran dan surat peringatan kemudian pada akhirnya ada keputusan konstitusi dalam PKB untuk meminta ketua Dewan tanfidz untuk mundur.

Ini harusnya juga dihormati oleh ketua umum dewan tanfidz karena dalam PKB setiap pengurus adalah sama di depan konstitusi PKB dan jabatan adalah amanat bukan warisan yang harus terus dipertahankan. Tetapi tampaknya Cak Imin khilaf sehingga melakukan perlawanan konstitusi dan nilai demokrasi yang ada di PKB dengan cara mengakali konstitusi yang ada di PKB, dimana dia menyelenggarakan MLB tandingan dan merekrut para desertir kader partai. Menurut saya, perlawanan tersebut akan sia-sia saja dan bahkan akan menambah nilai buruk dari para desertir partai ini karena tidak mau menerima konstitusi yang dia ikut merumuskan, apa kata dunia kalau dia yang merumuskan dia juga yang mengkhianati?. Jadi dari sini jelas terlihat bukan siapa demokrat dan siapa otoriter…? Kalau PKB sebuah “negara” betulan, pasti desertir PKB ini akan dihukum berat tetapi beruntunglah PKB hanya partai politik sehingga desertir PKB ini hanya dipersilakan untuk mencari partai lain yang nilai demokrasinya sesuai dengan yang mereka harapkan.

Jadi dari jabaran di atas jelas terlihat dan kalau bahasa Jawa-nya “cetho welo-welo” bahwa Gus Dur masih seorang demokrat sejati dan tidak ada kompromi untuk sebuah kebenaran. Hampir semua yang dipecat dalam PKB adalah kader terbaik yang pernah ada di PKB dan juga didikan keras dan lama oleh Gus Dur tetapi sekali lagi aturan dan konstitusi partai harus ditegakkan tanpa pandang bulu sehingga resiko dan cost apapun akan beliau tempuh.

Dari sini sudah jelas bukan apa yang ada dalam dinamika politik di PKB? Dengan kata lain, kalau mau berfikir jernih tidak repot bukan untuk mengetahui apa yang sebenarnya tejadi dalam PKB? Untuk sebuah kebenaran tidak pernah ada kompromi PKB “selalu” maju tak gentar membela yang benar.

——————————

*Penulis adalah Anggota KOMMIT, Alumni Universitas Diponegoro