Gus Dur dan Oposisi

Oleh : Imam Rasyidi*

Kalau mau objektif rasanya susah disangkal bahwa Gus Dur telah mengimbangi peran Suharto dalam dialektika dan sepak terjang politik di era orde baru. Gus Dur juga telah mengimbangi kalangan konservatif muslim yang sedemikian mudah men-cap orang lain sebagai bid’ah, kafir, musuh Islam dll. Ini bukan berarti bahwa Gus Dur berada pada posisi inferior dari kalangan sekuler, liberal, modern, barat dan kebarat-baratan. Sebaliknya Gus Dur bisa dengan mudah bergaul dan berwacana dengan mereka, tanpa perlu berkompromi dengan akidahnya sebagai muslim sejati.

Ini cukup membingungkan saya. Buat saya tidaklah terlalu sulit memahami profesor lulusan Chicago seperti Cak Nur dan Amien Rais. Atau bahkan Islam liberalnya Ulil Absar Abdala itu. Itu masih bisa dipahami dengan kerangka berpikir ilmu barat dimana saya cukup familiar.

Untuk Gus Dur, sampai hari ini saya masih merasa belajar dari beliau. Bukan hanya belajar dari kejeniusannya berwacana tetapi juga konsistensinya (yang seringkali kelihatannya tidak konsisten) dalam bertindak dan staminanya dalam memperjuangkan apa yang beliau percayai. Gus Dur bisa dianggap gila kekuasaan atau manusia luar biasa soleh. Bukan hanya dari sisi agama per se, tetapi juga dari sisi tindakan kemanusiaan. Saya yakin, insya Allah, jasa Gus Dur akan lebih diapresiasi apabila beliau sudah tidak ada daripada saat beliau masih hidup. Karena seringkali orang jadi lebih objektif manakala orangnya tidak ada atau karena proses waktu telah mengurangi faktor emosional dari proses penilaian manusia.

Sosok Gus Dur memang sesuai dengan pepatah Inggris “you like it or you hate it“. Waktu saya sekolah ke Inggris, saya berkenalan dengan seorang pemuda Inggris. Kemudian saya bilang saya sangat menyukai Mr Bean. Anehnya dia sangat tidak menyukainya. Dia bilang “it’s stupid“. Mungkin karena komedinya yang slapstick. Demikian juga dengan Gus Dur. Susah menemukan orang yang netral terhadap Gus Dur. Seringkali yang ada adalah orang yang sangat tidak menyukainya atau sebaliknya sangat mengidolakannya.

Pada kondisi sekarang dimana beliau sudah tidak bisa melihat lagi, pakai kursi roda dan katanya harus cuci darah beberapa kali dalam seminggu, Gus Dur bisa berarti gila kekuasaan atau benar-benar orang yang sedemikian soleh dan negarawan sehingga beliau bisa lupa akan segala penyakitnya demi umat dan masyarakat Indonesia.

Saya percaya bahwa Gus Dur adalah orang yang sangat soleh dan negarawan. Kalau kita diberi penyakit yang harus cuci darah saja, wah mungkin sudah merasa kiamat dunia dan loyo. Beliau seolah-olah tidak merasakannya. Dan anehnya orang tidak memandang dari sisi ini dan memperlakukan beliau seolah-olah beliau adalah orang yang sehat seperti kita-kita di milis ini. Saya pikr Gus Dur tidak akan tergantikan sebagai pribadi. Susah menyamai Gus Dur dengan segala wacana dan tindakannya. Sama susahnya seperti mencari pengganti Mandel di Afsel, Abraham Lincoln di USA atau Gandhi di India.

Sebagai penggemar Gus Dur yang memonitor beliau sudah sejak lebih dari 20 tahun lalu, saya merasa sukar untuk tidak selalu membenarkan tindakan beliau. Seringkali memang argumentasi yang Gus Dur kemukakan sungguh mematikan, sehingga kita tidak bisa menyanggahnya. Sebenarnya ini bersumber dari keyakinan kita bahwa apa yang Gus Dur lakukan benar-benar untuk kemaslahatan umat. Bukan untuk kenikmatan beliau secara pribadi. Sukar untuk mengatakan bahwa tindakan dan ucapan Gus Dur yang sering melawan arus menguntungkan beliau. Ini berarti beliau memang benar-benar luar biasa ingin selalu beda, ingin selalu cari ribut dan sensasi atau memang punya keberanian luar biasa untuk mengatakan kepada masyarakat bahwa pendapat umum kemungkinan salah.

Kepandaiannya bermain politik sebagai oposisi Suharto di era orde baru telah sedemikian mendarah daging pada beliau. Sehingga sampai hari ini beliau bilang musuh terbesarnya hanyalah Suharto. Saya sependapat dengan beliau bahwa lawan yang setanding dengan beliau adalah pak Harto. Yang lainnya saya rasa tingkatannya cuma gangguan yang menyebalkan buat beliau. Ini mungkin analoginya seperti kita tidur di hutan yang ada harimaunya. Setelah harimaunya mati kita bunuh, tinggal nyamuk-nyamuk menyebalkan yang mengganggu kenikmatan kita tidur. (Kebetulan di hutan tidak ada kelambu atau lotion anti nyamuk).

Sebagai pengagum beliau sukar untuk melepaskan diri untuk melihat suatu keadaan sedikit berbeda dengan judgment Gus Dur. Tapi dengan berjalannya waktu, pelan-pelan saya bisa melepaskan diri dari bayang-bayang kebesaran Gus Dur. Yang kita coba warisi dari beliau adalah prinsip-prinsip dasar sebagai muslim di tengah masyarakat Indonesia dan dunia yang beragam. Tapi dalam hal penilaian situasi dan kondisi masyarakat serta taktik dan strategi bermasyarakat tentu saja kita bisa berbeda dengan penilaian beliau.

Dalam hal ini saya merasa bahwa beliau masih berkelakuan seolah-olah beliau adalah oposisi suatu rezim. Padahal saat ini situasinya berbeda. Pada saat beliau terpilih semestinya “mode”nya beliau rubah sebagai “the legitimate successor” dari era orde baru. Beliau malah bicara lebih ceplas ceplos menyerang orang-orang nggak beres itu. Semestinya beliau mencoba bermain taktis agar pelan-pelan orang-orang ini terkontrol dengan baik. Keberanian Gus Dur di era orde baru menjadi bumerang di kala orde reformasi. Saat ini tidak akan ada yang berani bertindak terhadap Gus Dur apapun yang beliau katakan, tapi bukan berarti orang-orang tidak mengerjainya secara tidak langsung dan di belakang layar.

Dalam hal ini kemampuan Suharto me-manage keadaan di peralihan era orde lama ke orde baru patut diacungi jempol. Dengan taktis pak Harto menguasai keadaan. Sehingga setelah keadaan terkuasai, Suharto bisa berkonsentrasi pada pembangunan ekonomi. Walaupun di era-era terakhir kepemimpinannya, kemampuan penguasaan keadaan ini juga malah jadi bumerang yang menghantam dirinya.

Pada era sekarang ini, saya pikir posisi yang bisa kita pakai sebagai penerus Gus Dur dan ideologi NU adalah berpikir dan bertindak bukan sebagai oposisi tapi sebagai “the de facto majority“. Ini artinya kita tidak mengkritik berlebihan tanpa menghiraukan realitas keadaan.

Aspirasi masyarakat tentu saja tetap kita serap tetapi kita berpikir sebagai mayoritas yang mencoba memikirkan solusi yang realistis atas persoalan yang terjadi. Mungkin strategi yang cocok untuk Gus Dur dan pengikutnya dan pewaris ideologi NU adalah menjadi “consensus builder“. Aspirasi yang diserap dari masyarakat kemudian dicari jalan agar bisa dilaksanakan dengan membangun opini dan membuat aliansi yang optimum dengan para pemangku kepentingan lainnya.

Mungkin ini yang dicoba Cak Imin dengan mencoba dekat dengan SBY. Sayangnya Cak Imin tidak bisa meyakinkan Gus Dur dengan apa yang dilakukannya sehingga mungkin Gus Dur merasa Cak Imin jalan sendiri dan lebih nurut dengan SBY dibanding sebagai pemangku kepercayaan dewan Syuro PKB. Ini tentu saja dengan asumsi Cak Imin memang berpikir seperti itu daripada tergoda kekuasaan yang sedemikian dekat di depan mata.

Memang saat ini hampir tidak ada orang yang bisa menjembatani idealisme tanpa komprominya GD dengan realitas lapangan. Satu-satu orang yang dibesarkan GD berjatuhan. Memang sungguh sukar menjadi jembatan bagi GD dengan realitas politik yang ada. Orang ini mesti paham benar dengan tindakan dan wacana GD dengan segala manuvernya, loyal terhadap beliau sehingga tidak menimbulkan intrik yang tidak perlu dari pengikut GD yang lain, mampu meyakinkan GD akan jalan kompromi yang mesti diambil karena hasilnya lebih optimum bagi masyarakat, dan yang juga sangat susah adalah meyakinkan masyarakat bahwa apa yang GD perbuat memiliki logika yang pada akhirnya demi kemaslahatan masyarakat juga.

Mungkin ini pekerjaan mustahil bagi siapapun. Tapi selama ini tidak terpecahkan, apa yang GD dan PKB lakukan tidaklah akan optimal hasilnya. Dengan track record seperti ini dan waktu yang sudah sedemikian lama memang PR-nya luar biasa susah tapi bukan berarti ini mustahil. Dengan modal awal masa NU yang sedemikian banyak, semestinya GD bisa memainkan aset ini dengan baik. Ini sebenarnya mungkin mengherankan bagi orang-orang yang melihat bagaimana GD mampu memakai kendaraan NU untuk mengimbangi Suharto di era orde baru. Justru saat ini GD banyak berseberangan dengan para petinggi NU.

Kalau saya mencoba membaca apa yang GD lakukan adalah mungkin setelah Suharto tumbang, beliau merasa saatnya membersihkan NU dari orang-orang yang hanya berpikir tentang kenikmatan diri sendiri dan kelompoknya. Dulu nggak mungkin ini bisa dilakukan karena harus berkonsentrasi dengan musuh yang berat.

Menyambung analogi di atas mungkin ini seperti setelah harimau terbunuh, GD konsentrasi membunuhi nyamuk yang tiada habisnya. Sehingga malah lebih susah tidur dari sebelumnya. Mestinya energi yang dipakai untuk berstrategi menghadapi harimau dipakai untuk mencari solusi tidur tidak digigit nyamuk yaitu dengan pergi ke kota mencari kelambu atau obat nyamuk sehingga bisa menikmati tidur dan bahkan mencari teman tidur yang sah sehingga tidurnya benar-benar nyamleng dan terus “berkembang biak” di hutan itu dan akhirnya bisa mendiami hutan dengan sejahtera.

Saya berharap Yenny Wahid bisa berpikir seperti ini, tapi saya lihat peran Yenny saat ini belum optimal. Saya percaya Yenny memiliki kemampuan menonjol dibanding kader PKB dan GD lainnya. Sama seperti GD menjadi penerus klan Wahid bahkan Hasyim yang paling menonjol. Demikian juga Yenny. Waktu yang akan membuktikan apakah Yenny hanya merupakan penyambung lidah GD semata atau memang Yenny bisa bertumbuh menjadi diri sendiri dan seperti bapaknya yang mengukir namanya sendiri. Gus Dur bahkan lebih dikenal sebagai Gus Dur daripada sebagai putranya KH Wahid Hasyim dan cucunya KH Hasyim Ashari.

Selain Yenny, di milis ini saya liat anak-anak muda yang juga bisa berpotensi untuk berperan di kancah wacana dan panggung nasional. Saya harap anda-anda menyadari bahwa saat ini situasinya berubah. Pemain yang dominan bukan lagi Suharto, bahkan saat ini tidak ada pemain dominan di panggung nasional. Yang ada adalah para pemain yang saling berebut naik ke panggung minta gilirannya duluan. Ada baiknya saat ini kita malah jadi sutradara yang mengatur cerita dan pemainnya.

Kita mencoba berpikir dan berbuat layaknya sutradara yang mencoba bermain diantara kepentingan seni, kepentingan pemilik modal, kepentingan norma-norma agama dan sosial serta realitas tempat shooting yang tidak ideal. Dengan cara ini, saya rasa kontribusi kita akan optimal dan pada akhirnya masyarakat akan mengapresiasi apa yang kita lakukan dan memberikan imbalan yang sepadan baik untuk mereka, yang memang berniat berkarir di bidang ini atau hanya mereka yang merasa terpanggil keadaan.

Salam PKB

*Penulis adalah Aktivis Milis PKB, Alumni Universitas Indonesia

Satu Tanggapan to “Gus Dur dan Oposisi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: