Menghormati Sang Guru Bangsa
Seperti halnya sunnatulah akan adanya keberagaman, maka bereskpresi pun setiap orang berbeda, termasuk dalam menghormati sang guru bangsa, almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid. Dalam konteks umum, kebebasan itu pula yang memperkuat iklim demokrasi bangsa, sepanjang masih dalam koridor konstitusi.
Ekspresi untuk Sang Guru Bangsa terus datang dari sejak beliau masih berkiprah sampai menghadap ke Ilahi. Beberapa ekspresi kecintaan yang terlihat ketika Guru Bangsa kembali kepangkuan Ilahi, antara lain :
- Kepergiannya membawa duka cita bagi masyarakat luas yang terdiri dari berbagai lintas agama, suku, juga negara serta dari kalangan masyarakat bawah sampe tokoh2 dunia. [Ref 1][Ref 2][Ref 3][Ref 4][Ref 5][Ref 6][Ref 7][Ref 8][Ref 9][Ref 10][Ref 11]
- Makamnya terus dikunjungi oleh peziarah yang tidak pernah berhenti di Ponpes Tebu Ireng, Jombang dan membawa berkah tersendiri bagi sebagian masyarakat lain. [Ref 1][Ref 2][Ref 3][Ref 4][Ref 5][Ref 6][Ref 7][Ref 8][Ref 9][Ref 10]
- Pembuatan buku-buku mengenang perjalanan Guru Bangsa yang seabrek judulnya. [Ref 1][Ref 2][Ref 3][Ref 4][Ref 5][Ref 6]
- Penggunaan nama Abdurrahman Wahid menjadi jalan utama kota. [[Ref 1][Ref 2][Ref 3][Ref 4][Ref 5]
- Pemberian penghargaan atau penganugerahan sebagai symbol perjuangan dan tauladan, seperti ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional-usulan-, Bapak Demokrasi Papua, Tokoh Pendidikan, penghargaan oleh Migrant Care Award, Bapak Tionghoa, Mahendradatta Award 2010
- Pembangunan Perpustakaan Guru Bangsa di Yogya.
- Rencana/wacana penghormatan lainnya, seperti pemberian nama Bandar Udara Abdurrahman Wahid, Universitas Abdurrahman Wahid, Gus Dur masuk Guines Book of Record-Usulan-.
Bagaimana cara Anda menghormati sang Guru Bangsa? Semuanya terpulang pada diri Anda masing2.

11 April 2010 pada 4:15 am
Saya selaku generasi muda NU dan PKB sangat berharap PKB bersatu untuk memenangkan PEMILU, PILPRS 2014. pergerakan pemuda di daerah perlu ditingkatkan.